Biaya Produksi Padi Naik 30 Persen

Rabu, 1 Februari 2012 | 09:33 WIB

SULANG – Naiknya harga pupuk bersubsidi serta naiknya upah kerja menyebabkan biaya produksi petani melonjak hingga 30 persen. Hal ini membuat petani kian terjepit di tengah ancaman puso akibat banyaknya serangan hama dan cuaca ekstrem.

Waji(45), seorang petani Desa Sulang, Kecamatan Sulang, Rabu (1/2), mengaku harus menguras seluruh tabungannya untuk menutup biaya produksi.

Biasanya, ia membutuhkan pupuk urea sebanyak 300 kg untuk keperluan tanaman padi seluas satu hektar. Artinya, ia harus mengeluarkan biaya pembelian pupuk sekitar Rp558.000 atau naik dibandingkan dengan sebelumnya yang hanya Rp498.000.

“Kenaikan pupuk urea bersubsidi membuat biaya untuk pupuk membengkak. Di tingkat pengecer, harga urea dipatok Rp93.000 per sak isi 50 kg. Ini membuat biaya produksi bertambah,” katanya.

Selain dihadapkan pada biaya pemupukan, para petani juga harus menghadapi persoalan biaya upah pekerja yang juga mengalami kenaikan yang semula Rp25.000 per hari menjadi Rp30.000 hingga Rp35.000 per hari.

“Karena minimnya buruh kerja tani, upah kerja juga mengalami kenaikan. Sebelumnya upah kerja hanya Rp25.000 per hari sekarang melonjak Rp35.000 perhari. Ini menyebabkan pembengkakan biaya,” tambahnya.

Abdul Suud, petani Desa Kadiwono, Kecamatan Bulu, mengatakan, kenaikan biaya produksi juga disebabkan bertambahnya biaya untuk pengendalian hama lantaran banyaknya hama yang menyerang lahan padi mereka.

“Selain harga pupuk dan upah kerja yang mengalami kenaikan, biaya pengendalian hama juga membengkak karena serangan hama yang sulit dikendalikan. Mau tidak mau kami harus berulang melakukan penyemprotan untuk mencegah meluasnya hama sekaligus untuk menjaga agar mutu gabah tetap baik. Dengan demikian maka biaya pembelian pestisida dan tenaga penyemprot juga bertambah,” katanya.

Petani benar-benar tercekik. Biaya produksi naik sekitar 30 persen. Padahal pemerintah belum menaikkan harga jual gabah di tingkat petani.

Dia menambahkan, biaya produksi saat ini naik dari semula hanya Rp3 juta sekarang bisa mencapi Rp4 juta per hektar.

Menurut Turmudji, musim hujan seperti sekarang memicu banyaknya jenis hama serta penurunan mutu produksi padi karena terpaan angin kencang dan hujan deras.

Menurut M Idris (54), Ketua Kelompok Tani Ngudi Utomo Desa Glebeg, Kecamatan Sulang, kondisi tersebut seharusnya menjadi acuan pemerintah agar tahun ini segera menetapkan HPP yang baru. HPP gabah kering panen sesuai Inpres Nomor 7 Tahun 2009 sebesar Rp2.640 dan Rp2.685 per kilogram seharusnya naik menjadi Rp 3.100 dan Rp 3.155 di tingkat petani dan gudang.

“Pemerintah harus memikirnan nasib petani dengan menetapkan HPP baru yang lebih menguntungkan petani,” katanya. (Rom)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan