Semangat Berjuang Tanpa Pamrih Mulai Pudar

Saturday, 10 November 2012 | 19:38 WIB

Pahlawan : Berjuang Tanpa Pamrih

Rembang – MataAirRadio.net Hari Pahlawan yang diperingati setiap 10 November mestinya dijadikan momentum untuk kembali membangun Indonesia dengan tanpa pamrih sebagaimana yang diteladankan para pahlawan bangsa zaman dahulu.
Menurut Sumargo, 67 tahun, simpatisan pejuang empat lima asal Desa Sidowayah Kecamatan Rembang kepada reporter MataAir Radio, Sabtu (10/11), perjuangan para pahlawan di masa lalu dilakukan dengan pantang menyerah dan tanpa pamrih. Berbeda dengan zaman sekarang yang setiap perjuangan itu lebih banyak pamrihnya.
Sumargo yang anak seorang pejuang itu mengatakan, sebagai penerus bangsa, sudah semestinya meneladani semangat perjuangan para pahlawan dan jangan menyia-nyiakan pengorbanan mereka.

Sementara itu, upacara peringatan Hari Pahlawan di Halaman Kantor Bupati Rembang berlangsung cukup khidmat. Elemen peserta upacara baik dari unsur pelajar, mahasiswa, PNS, hingga anggota TNI/Polri seperti larut dalam kenangan perjuangan para pembela pertiwi. Beberapa dari para peserta upacara bahkan ada yang menitikkan air mata, ketika lagu gugur bunga diperdengarkan.
Menteri Sosial Republik Indonesia Salim Segaf Al Jufri dalam sambutan yang dibacakan Bupati Rembang Mochammad Salim berharap semangat kepahlawanan yang ditunjukkan pada pertempuran 10 November 1945, bisa menjadi inspirasi untuk membangun Indonesia yang lebih sejahtera.

Sekadar menyegarkan ingatan sejarah, pada 10 November 1945 pagi hari, tentara Inggris mulai melancarkan serangan berskala besar, yang diawali dengan pengeboman udara ke gedung-gedung pemerintahan Surabaya, dan kemudian mengerahkan sekitar 30.000 infanteri, sejumlah pesawat terbang, tank, dan kapal perang.
Inggris membombardir Kota Surabaya dengan meriam dari laut dan darat. Perlawanan pasukan dan milisi Indonesia kemudian berkobar di seluruh kota, dengan bantuan yang aktif dari penduduk. Setidaknya 6.000 pejuang dari pihak Indonesia tewas dan 200.000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya. Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat sipil yang menjadi korban pada hari 10 November itu, kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan oleh Republik Indonesia hingga sekarang. (Pujianto)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan