Warga Kunjungi Situs Gentong Usai Jamasan Bende Becak Sunan Bonang

Selasa, 15 Oktober 2013 | 17:32 WIB
Ritual penjamasan Bende Becak, sebuah gong kecil yang konon merupakaan jelmaan seorang utusan Raja Mapajahit Brawijaya V.

Ritual penjamasan Bende Becak, sebuah gong kecil yang konon merupakaan jelmaan seorang utusan Raja Mapajahit Brawijaya V.

LASEM, MataAirRadio.net – Ritual penjamasan Bende Becak, sebuah gong kecil yang konon merupakaan jelmaan seorang utusan Raja Mapajahit Brawijaya V, kembali digelar selepas salat Idul Adha 1434 Hijriah, Selasa (15/10) pagi. Sebagaimana perhelatan pada tahun-tahun sebelumnya, ratusan orang warga dari berbagai daerah datang menghadiri ritual tersebut.

Mereka seolah terpanggil untuk meneladani semangat Sunan Bonang dalam menyiarkan Islam pada abad ke-15 melalui gong kecil itu. Salah satunya Beni, warga Semarang. Kepada MataAir Radio, dia mengaku hampir selalu datang setiap tahun di ritual penjamasan Bende Becak.

Beni yang datang serombongan ini bahkan telah tiba di Bonang pada Senin (14/10) sore kemarin. Ke depan, menurutnya, budaya seperti ini perlu terus dilestarikan. Dia berharap kepada Allah agar dilimpahi berkah melalui Sunan Bonang seusai menghadiri jamasan.

Secara khusus, Beni mengidamkan suasana yang lebih tertib lagi dalam pelaksanaan ritual tahunan ini. Keamanan pengunjung pun perlu lebih diperhatikan panitia, mengingat mereka berdesak-desakan untuk mendapatkan air bekas jamasan.

Secara umum, pelaksanaan jamasan Bende Becak memang nyaris persis dengan tahun-tahun sebelumnya. Setiap 10 Dzulhijah, saat hari raya Idul Adha, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan juru kunci menjamas Bende Becak tersebut.

Dalam upacara itu, juru kunci menyediakan air bunga jamasan di lima tempat, ketan kuning dengan unti atau parutan kelapa bercampur gula jawa. Juru kunci menaruh ketan kuning itu di atas rakitan potongan bambu. Setelah tokoh agama dan masyarakat menjamas Bende Becak serta batu penabuhnya, ketan kuning plus unti, wadah ketan kuning, dan air bekas jamasan, dibagikan ke masyarakat.

Namun pada pelaksanaan jamasan Bende Becak tahun ini, sejumlah pengunjung menyempatkan diri menengok Situs Gentong yang diduga berkait paut dengan sejarah masa lalu era Sunan Bonang. Wakil Bupati Rembang Abdul Hafidz yang hadir di kesempatan itu pun berharap, situs-situs sejarah di wilayah Desa Bonang akan menjadi kekayaan pariwisata dan menopang perekonomian warga setempat.

Seperti diketahui, hari Rabu 9 Oktober kemarin, seorang warga Bonang bernama Tekan (70), menemukan gentong dan pecahan gerabah kuno di sebelah barat desa setempat. Gentong itu ditemukan Tekan ketika menggali tanah untuk mengumbuk jalan. Warga menduga, benda tersebut memiliki kaitan sejarah dengan era Sunan Bonang atau pada tahun 1510 Masehi. (Pujianto/Nugroho Ghozali)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan