Bebas Dari Tahanan, Empat Kapal Tak Langsung Pulang

Kamis, 19 April 2012 | 09:39 WIB


KOTA – Sebanyak enam kapal motor nelayan, masing-masing empat kapal milik nelayan Desa Tasikagung, Kecamatan/Kabupaten Rembang, dan dua kapal dari Juana-Pati yang ditangkap dan ditahan Badan Koordinasi Keamanan Laut (Bakorkamla) Dirjen Pengawasan Laut, Kementerian Perikanan dan Kelautan, di Selat Makassar wilayah Kota Baru, Kalimantan Selatan pada 8 April lalu, akhirnya dilepaskan, Rabu (18/4).

Berdasarkan catatan yang dihimpun suararembang, sebanyak 88 anak buah kapal dari keenam kapal tersebut dibebaskan dari status tahanan lepas di Pelabuhan Rakyat Kampung Baru, Balikpapan.

Kapal-kapal tersebut adalah KM Arta Mina Rizki, KM Arta Mina Barokah, KM Arta Mina Unggul, dan KM Sumber Rejeki Putra II; kesemuanya asal Desa Tasikagung, Rembang. Selain itu adalah KM Era Sanjaya dan KM Sidomulyo dari Juana-Pati. Semua kapal itu berbobot mati 30 Gross Ton (GT).

Penangkapan keenam kapal itu diduga karena mereka dinilai melanggar batas teritorial wilayah penangkapan yang tidak sesuai dengan izin tangkapan yang dikeluarkan instansi terkait. Yakni, daerah beroperasi kapal hanya berada di laut Jawa, tetapi telah menangkap ikan di wilayah selat Makassar.

Salah seorang pemilik kapal, Basyir, mengaku lega atas kabar pembebasan empat kapal beserta awaknya itu. “Yang paling penting semua anak buah kapal selamat,” tandasnya.

Ia menyebutkan, sebelum ditangkap, dua kapal miliknya telah meraup tangkapan ikan senilai Rp300 juta yang tertampung dalam 14 lubang di lambung kapal. “Namun karena ditahan lebih dari 10 hari, ikan-ikan hasil tangkapan itu pun membusuk dan tidak laku dijual,” katanya.

Menurut Basyir, kendati sudah dibebaskan, ABK dua kapalnya memilih tidak langsung pulang. “Mereka memilih melaut meski tidak untuk waktu yang lama. Sebab, perbekalan dua kapal itu mencapai Rp190 juta. Kami jelas menanggung rugi,” katanya.

Ia menambahkan, setelah kejadian itu pihaknya berharap agar nahkoda kapal lebih waspada di kemudian hari. “Penangkapan itu bukan karena kami tidak memiliki izin penangkapan, tapi dianggap melewati batas teritorial. Tapi itu kan masih wilayah Indonesia,” tandasnya. (Puji)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan