Ambulans Plat Merah Nekat Konsumsi BBM Bersubsidi

Selasa, 7 Agustus 2012 | 04:36 WIB
Ambulans milik RSUD dr R Soetrasno Rembang. (Foto: Pujianto)

KOTA – Gerakan penghematan bahan bakar minyak (BBM) untuk kendaraan plat merah menyisakan persoalan. Di Rembang, setidaknya beberapa kendaraan jasa dan operasional plat merah, seperti ambulans, terpaksa masih mengonsumsi BBM bersubsidi lantaran tak mau membebani masyarakat dengan kenaikan tarif.

Kepala Bidang Komunikasi dan Informasi RSUD dr R Soetrasno Rembang, Giri Saputra, Selasa (7/8), menjelaskan, larangan konsumsi BBM bersubsidi memang harus diikuti dengan peralihan konsumsi ke BBM nonsubsidi.

Namun, Giri menandaskan, peralihan itu mestinya tidak dihantamkan kepada semua mobil plat merah. Ambulans misalnya. “Ambulans ini, operasionalnya tidak dibiayai oleh APBD/APBN, tetapi dibiayai oleh masyarakat. Kalau kemudian ambulans wajib mengisi bahan bakar dengan BBM nonsubsidi, bukankah itu akan membuat jasa penggunaan ambulans oleh masyarakat akan naik hingga dua kali lipat,” tandasnya.

“Bukankah ini juga akan semakin memberatkan masyarakat. Ini pun bisa memicu protes. Kami berharap agar Pemerintah meninjau larangan penggunaan BBM bersubsidi untuk semua mobil plat merah. Setidaknya untuk ambulans dan mobil jenazah,” sambung Giri kepada mataairradio.net.

Menurut Giri, sejak larangan penggunaan BBM bersubsidi untuk mobil dinas atau mobil plat merah diberlakukan per 1 Agustus 2012, memang beberapa kali pihaknya mendapatkan laporan bahwa ambulans rumah sakit plat merah itu ditolak ketika hendak mengisi bahan bakar dengan BBM bersubsidi di sejumlah SPBU.

“Ada SPBU yang berani melayani, namun kemudian petugas SPBU mencatat nomor polisi ambulans kami. Kami tidak apa dicatat, asalkan petugas juga memberikan keterangan secara jelas bahwa ini mobil ambulans plat merah milik RSUD,” kata dia.

Disebutkan, RSUD dr R Soetrasno Rembang memiliki empat unit ambulans dan satu mobil jenazah. “Intensitas penggunaan ambulans di RSUD dr R Soetrasno oleh masyarakat, termasuk oleh masyarakat miskin, cukup tinggi. Apalagi ambulans juga di setiap puskesmas yang hampir setiap hari merujuk pasien dari puskesmas di kecamatan-kecamatan ke RSUD. Mestinya Pemerintah memahami ini,” paparnya. (Pujianto)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan