“Sesuatu” dari Penjual Sosis

Sabtu, 18 Februari 2012 | 09:37 WIB


TEPAT pukul 09.00 WIB, tibalah jam istirahat di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Islamiyyah di Dusun Jatigenuk Desa Sumber, Kecamatan Sumber. Belasan siswa pun berhamburan ke halaman madrasah. Mereka memilih menyerbu rombong penjual sosis dan nugget goreng di pojok selatan madrasah. Semenit kemudian, seorang pria dewasa keluar dari salah satu ruangan untuk menghampiri para siswa.

Pria berbusana batik warna cokelat muda dan berpeci itu pun bergegas menyalakan kompor elpiji di rombong itu dan mulai melayani siswa satu per satu. “Saya salah seorang guru di madrasah ini,” tuturnya ketika suararembang menghampirinya.

Sukardi namanya. Ia mengajar siswa kelas dua di MI yang dikelola Yayasan Pendidikan Islam Fatchurrohman. “Saya menyambi berjualan ketika jam-jam istirahat atau sebelum mereka masuk ke kelas di pagi hari,” ucap dia lirih.

Sarjana Pendidikan Islam dari Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) tersebut memang sudah tujuh tahun mengabdi di madrasah yang berada daerah pelosok itu. Jarak rumahnya terbilang jauh dari sekolah. Lebih dari 20 kilometer. Pasalnya, sehari-hari ia tinggal di RT 3 RW 1 Desa Jatimudo, Kecamatan Sulang.

“Tak lama setelah matahari terbit, saya berangkat. Saya memanfaatkan waktu 15-30 menit atau dari pukul 06.30 hingga pukul 07.00 WIB untuk sejenak berjualan. Sebab, tepat pukul 07.00 WIB, semua siswa harus sudah masuk kelas,” kata dia.

Suami dari Kasiati ini pun terbilang ulet. Setelah jam pelajaran usai, ia memilih untuk melanjutkan perjalanannya mencari nafkah. “Setelah anak-anak pulang, saya masih harus berjualan keliling untuk menghabiskan dagangan. Saya baru masuk kembali ke rumah pada petang hari,” kata bapak dari Siti Salma Zamilatul Azizah ini.

Mengajar dengan menyambi berjualan sosis dipilihnya karena penghasilan yang diterimanya sebagai guru honorer sangat minim. “Pada tahun pertama, saya dibayar Rp25.000 per bulan, kemudian naik di tahun berikutnya menjadi Rp50.000, hingga sekarang ini Rp112.000 per bulan,” kata dia.

Jika, misalnya, penghasilan tersebut harus dibelikan beras dengan harga saat ini Rp6.500 per kilogram, maka honornya hanya cukup untuk membeli 17 kilogram atau hanya mengonsumsi 3,5 ons beras per hari. “Setiap pagi, saya harus menyisakan sedikit penghasilan untu uang saku anak yang saat ini duduk di bangku kelas I sekolah dasar,” kata dia.

Kendati demikian, pria yang mengaku lulus dari pendidikan di madrasah aliyah pada 1997 itu tidak tampak mengeluh. Dari lisannya pun tak terucap kesah. “Dengan kesempatan mengajar ini saja, saya sudah cukup beruntung karena bisa menularkan ilmu meski tidak banyak,” kata dia.

Ia mengaku semangat untuk mengajar meski dengan segala keterbatasan terlecut dari motivasi serupa orang tuanya. “Mereka memberikan dorongan kepada saya untuk mengabdikan diri sebaik-baiknya untuk orang lain dan menularkan ilmu,” kata dia.

Sukardi hanya berharap pemerintah serius memperhatikan pendidikan di daerah pelosok. “Banyak siswa di daerah pelosok yang sebenarnya memiliki potensi, namun kerap tersandung kendala sarana dan prasarana pendidikan. Pemerintah mestinya serius memperhatikannya,” kata dia. (Puji)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan