Siswa Madrasah Rembang Tak Kunjung Terima Buku Kurikulum Baru

Selasa, 30 September 2014 | 17:15 WIB
Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama Rembang, Jasim (Foto:Pujianto)

Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama Rembang, Jasim (Foto:Pujianto)

REMBANG, MataAirRadio.net – Para siswa madrasah baik tingkat ibtidaiyah, tsanawiyah, hingga aliyah di Kabupaten Rembang belum sama sekali menerima buku kurikulum baru 2013 hingga Selasa (30/9) ini. Padahal pembelajaran sudah berlangsung dan kini telah memasuki pertengahan semester.

Ilham Hamami, seorang guru sejarah di MA Mualimin Mualimat Rembang mengaku menjadi repot mengajar ketika siswa tak memiliki buku pegangan. Dia pun mengaku terpaksa menyiasatinya dengan mengadopsi pembelajaran sebagaimana buku kurikulum lawas tahun 2004.

“Siswa MA belum mendapat satu pun buku pegangan. Untuk guru pun baru sebagian yakni yang buku agama. Untuk pelajaran umum, belum sama sekali. Sangat mengganggu karena materinya banyak, sementara siswa nggak ada buku,” kata Ilham kepada mataairradio.net, Selasa (30/9) siang.

Kurikulum baru 2013 berlaku untuk Kelas I dan IV MI, kemudian Kelas VII MTs, dan Kelas X Madrasah Aliyah. Dia mengaku sudah pernah menghubungi pihak Kantor Kementerian Agama Rembang, namun hanya dijawab menunggu kiriman dari penyedia di tingkat Pusat.

Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama Rembang Jasim mengonfirmasi, belum tersedianya buku siswa untuk semua madrasah. Dia juga sudah mengontak pihak Kantor Wilayah Kementerian Agama, namun bukunya memang masih nihil.

“Buku yang ada baru pegangan guru untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Sejarah Kebudayaan Islam. Yang lain belum, termasuk buku siswa. Komunikasi dengan Kanwil Kemenag sudah, tetapi bukunya memang belum ada,” katanya.

Menurutnya, akses komunikasi dengan pihak penyedia buku tidak bisa dilakukan karena perjanjian pemesanan langsung ditangani oleh Kemenag Pusat. Ia pun hanya diminta menunggu, sampai batas waktu yang belum bisa ditentukan.

“Kontraknya kontrak ‘payung’. MoU (memorandum of understanding) langsung di Pusat. Penyedia buku juga tersebar di seluruh indonesia. Kami nggak ada akses ke sana. Oleh kanwil, kami hanya disuruh menunggu. Sampai kapan pastinya, belum ada jawaban,” katanya.

Soal penyikapan belum turunnya buku siswa, ia menyarankan agar madrasah merujuk pada kurikulum tingkat satuan pendidikan atau KTSP 2012. “Sambil menunggu buku datang, madrasah bisa menggunakan sementara KTSP sebagai rujukan,” pungkasnya. (Pujianto)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan