Lian Gouw Ajak Penulis Jaga Keaslian Bahasa Indonesia

Rabu, 11 Desember 2013 | 16:54 WIB
 Lian Gouw, novelis Indonesia yang kini tinggal di California, Amerika Serikat. (Foto:Wahyu)

Lian Gouw, novelis Indonesia yang kini tinggal di California, Amerika Serikat. (Foto:Wahyu)

REMBANG, MataAirRadio.net – Novelis Indonesia yang kini tinggal di California, Amerika Serikat, Lian Gouw berkesempatan singgah di Rembang, Rabu (11/12) siang. Dia berkunjung ke kediaman KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus. Novelis kelahiran Jakarta, 79 tahun silam itu juga menyempatkan diri berkunjung ke Studio MataAir Radio di Jalan KH Bisri Mustofa 61 Rembang.

Lian Gouw sempat berbagi pengalaman mengenai perbedaan dunia tulis menulis di Indonesia dan Amerika Serikat. Salah satunya menurut Lian adalah mengenai editing atau penyuntingan. Penulis Novel “Only a Girl” ini menilai, penerbit di Amerika Serikat sebut saja Random House sangat selektif dalam menerbitkan sebuah karya tulis.

Berbeda dengan di Indonesia yang minim sekali suntingan, sehingga karya penulis yang masih mentah, nekat diorbitkan. Lian juga berbagi kiat, penguasaan bahasa penting untuk dimiliki penulis. Ia mengaku sedih, sejumlah penulis tidak menaruh hormat pada bahasa Indonesia ketika menulis ataupun menyunting.

Gouw menekankan, seorang penulis yang sedang atau akan bergelut di dunia penerbitan perlu menjaga mutu. Demikian juga penerbitnya. Dalam hal ini, menjaga kemurnian bahasa Indonesia menjadi sesuatu yang utama.

Menurut perempuan berambut pendek ini, jika bahasa yang digunakan penulis kacau atau terlalu banyak menggunakan istilah kebarat-baratan atau berbau inggris, maka mutu dari sebuah karya tulis atau karya sastra, sulit dijaga. Kemajuan dari sebuah karya tidak ditentukan dari unsur asing yang masuk, tetapi terletak pada keaslian bahasa.

Dia pun mengajak penulis di negeri ini untuk menjaga kemurnian dan keaslian Bahasa Indonesia. Sebab bahasa adalah perwakilan dari masyarakat dan tanpa bahasa masyarakat itu tiada.

Dalam tulisannya, Lian banyak menggali tema-tema relasi antara manusia, hubungan dengan binatang, dan fantasi bernuansa fabel atau moral dan budi pekerti. Secara khusus dia tertarik menyelidiki kehidupan dan pergumulan kaum perempuan. (Wahyu Salvana)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan