Dua Guru Memilih Mundur dari Seleksi Sertifikasi

Sabtu, 25 Februari 2012 | 08:25 WIB


REMBANG – Dua guru yang telah masuk dalam kuota sertifikasi di Kabupaten Rembang memilih mundur alias tak melanjutkan tahapan seleksi program tersebut tanpa diketahui alasannya secara jelas.

Berdasarkan data yang dihimpun dari lokasi ujian kompetensi awal sertifikasi, Kamis (25/2) pagi, dua orang guru tersebut masing-masing Wahid, pendidik di SDN 1 Gambiran Pamotan, dan Susi Ekowati, pendidik di TK Tunas Rimba Rembang.

Kepala Bidang Pendidik dan Tenaga Kependidikan pada Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Rembang, Mashadi mengaku tak mengetahui alasan pasti mereka
mundur. “Hanya, keduanya sudah membuat surat pengunduran diri,” kata dia.

Dengan mundurnya kedua guru tersebut, maka kuota 1.200 guru kabupaten itu yang berhak mengikuti seleksi program sertifikasi tahun ini, hanya dimanfaatkan 1.198 orang guru dengan mengikuti ujian kompetensi awal. Mereka, Sabtu (25/2) pagi, mengikuti ujian di tiga tempat terpisah, yakni SMAN 3, SMPN 1, dan SMKN 1 Rembang.

Mashadi juga mengatakan, sebelum pelaksanaan ujian memang banyak guru yang mengaku belum siap secara mental untuk mengikuti ujian, apalagi tahapan seleksi tahun ini berbeda dibanding tahun sebelumnya.

Setiap guru akan diuji dua materi pokok yakni pengetahuan pedagogik dan profesional. Materi pengetahuan profesional sangat menentukan karena memiliki proporsi penilaian tertinggi yakni 70 persen, sedangkan bobot nilai materi pedagogik 30 persen. Hanya mereka yang lulus ujian ini yang bisa ikut PLPG di Semarang.

Mengenai kapan hasil pengumuman uji kompetensi awal diumumkan, Mashadi belum bisa memastikannya. “Kami masih menunggu informasi jadwal pengumuman dari Pusat,” kata dia.

Tahun lalu, dari sebanyak 688 guru kabupaten itu yang mengikuti sertifikasi, hanya sebanyak 678 orang yang dinyatakan lulus. Lima guru tidak lulus, empat mengulang, sedangkan satu lainnya telah meninggal dunia. (Puji)




One comment
  1. retno

    Februari 27, 2012 at 8:01 am

    berbagai bentuk carut marut dunia pendidikan di rembang itu tidak lepas dari cara dandung mencapai posisi kadinas. caranya melalui jalan politik jual beli jabatan ya akhirnya seperti itu. virusnya jad menyebar dan semua anakbuah dikerahkan untuk mencari setoran. bukan hanya sertifikasi saja yang harus dengan uang pelicin dan kelulusannya,tapijuga jual beli jabatan kepala sekolah dan yang lebih memprihatinkan sekarang DAK yang dikuasai agen tunggal KM putra selalu levansir sekaligus pemborong bangunan SD dan semua ATK. kalau meja,kursi,kayu, esbes, dll tidak mengambil dari KM kepala sekolah diancam. antek-antek penguasa cukup dengan mengatakan “wis bosen dadi kepala sekolah opo piye? sing antri akeh loh”. makanya memperbaiki kuaitas pendidikan di rembang itu gampang aja. cokok dulu dandung dan safak ke Polda Jateng! baru kita bicara tatanan yang adil di dunia pendidkan rembang.

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan