“Dihadiahi” Nol Jam, Guru Protes

Senin, 3 September 2012 | 05:57 WIB
Reno Basuki, kanan, membeber perlakuan yang diterimanya dari pihak Madrasah Maslakhul Huda Sluke, Senin (3/9). (Foto: Pujianto)

KOTA, mataairradio.net – Seorang guru mata pelajaran Matematika di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Maslakhul Huda Sluke, Reno Basuki (39), mengadu ke Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Rembang, Senin (3/9). Pengaduan itu menyusul keputusan pihak madrasah yang memberikan nol jam mengajar (tidak mengajar, red.) kepadanya per libur Lebaran kemarin.

Reno Basuki, warga RT 1 RW 1 Desa/Kecamatan Sluke yang ditemui mataairradio.net seusai mengadu ke pihak Kemenag Rembang mengaku, keputusan nol jam yang diterimanya membuatnya kaget.

Pasalnya, selain datang tiba-tiba, ia kali pertama menerima keputusan–tidak mendapatkan jatah mengajar– itu bukan langsung dari kepala madrasah atau kepala yayasan, melainkan dari wakil kepala sekolah.

“Saat itu (7/8) sekitar pukul 06.26 WIB, saya tiba-tiba menerima kabar dari Pak Majid (Abdul Jalil Amajid, Wakil Kepala MTs Maslakhul Huda, red.) melalui telepon, memberitahukan bahwa setelah libur Lebaran nanti, saya nol jam mengajar di MTs Maslakhul Huda. Ketika itu, Pak Jalil mengatakan keputusan memberikan nol jam itu lantaran saya tidak bisa diajak dalam kebersamaan,” ungkapnya.

Tak yakin dengan keputusan itu, Reno mengaku langsung menghubungi Kepala Madrasah, Sumardi, melalui telepon. “Namun, saat saya hubungi, Pak Sumardi mengaku tak tahu menahu perihal keputusan itu,” katanya.

Namun, beberapa saat setelah itu, Sumardi, kata Reno, justru balik menghubunginya dan justru juga menyatakan kalau alasan pemberian nol jam itu lantaran dirinya dianggap tidak bisa diajak dalam kebersamaan.

“Pengertian pemberian nol jam ini identik dengan pemecatan saya sebagai guru di MTs Maslakhul Huda. Ini tindakan sewenang-wenang. Apalagi, sebelumnya, saya tidak pernah mendapat teguran atau pemberitahuan tertulis. Ini tidak prosedural. Padahal saya diterima mengajar di madrasah itu pakai prosedur lho,” katanya.

Ia menilai, alasan pengambilan keputusan itu juga tidak jelas. “Alasannya saya tidak bisa diajak dalam kebersamaan. Kebersamaan seperti apa? tidak jelas,” kata Reno yang mengaku sudah mengajar di MTs Maslakhul Huda sejak 2006 silam.

Namun, dari informasi yang dikumpukan mataairradio.net, pemberian nol jam kepada Reno Basuki lantaran yang bersangkutan pernah mangkir dari acara buka bersama yang diselenggarakan pihak madrasah.

“Kalau soal tidak menghadiri acara buka bersama yang diselenggarakan madrasah, ketidakhadiran saya sudah disertai izin. Mestinya madrasah mau diajak berdialog untuk pengertian ‘tidak bisa diajak dalam kebersamaan’,” tandasnya.

Reno menambahkan, selama mengajar, ia mendapatkan gaji sebesar Rp700.000 per bulan. Rinciannya, Rp300.000 berasal dari honor mengajar 20 jam seminggu, Rp250.000 dari tunjangan fungsional, dan Rp150.000 dari tunjangan APBD.

“Awalnya saya mendapatkan jam mengajar sebanyak 20 jam per minggu. Namun, awal semester ini, saya hanya mendapatkan 12 jam mengajar, sebelum akhirnya tidak diberikan jam mengajar sama sekali,” katanya.

Pihaknya berharap, pengaduannya kepada pihak Kemenag mendapatkan tanggapan, karena keputusan madrasah itu bisa menghilangkan sumber penghidupan bagi keluarganya; istri dan dua orang anaknya. “Apalagi, jika tidak ada halangan, tahun depan giliran saya mengikuti seleksi sertifikasi,” pungkasnya. (Pujianto)




One comment
  1. Anonymous

    September 4, 2012 at 5:56 pm

    ciri-ciri penganut fir'aun adalah menuhankan yang bukan tuhan:
    -menuhankan dirinya sendiri
    -menuhankan pejabat/penguasa
    -menuhankan pangkat/jabatan/kekuasaan
    -menuhankan kekayaan
    -menuhankan S2 dan sertifikasi
    -menuhankan Mts. Maslakul Huda Sluke

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan