Bekas Pengelola Sarankan PSIR Ikuti Liga Amatir

Selasa, 9 Desember 2014 | 18:46 WIB
PSIR Rembang. (Foto:Pujianto)

PSIR Rembang. (Foto:Pujianto)

 
REMBANG, mataairradio.com – Bekas pengelola PSIR, PT Rembang Sportindo Mandiri (RSM) melontarkan saran mengejutkan menyangkut nasib Laskar Dampo Awang yang saat sekarang belum jelas kepengelolaannya.

Pihak perseroan yang menaungi PSIR selama tiga musim beruntun ini, justru mengusulkan agar Skuat Oranye mengikuti saja liga amatir atau turun kasta ke Divisi I, agar memperoleh dukungan anggaran dari Pemkab Rembang.

“Kalau saya boleh usul, PSIR ikut liga amatir saja, sehingga dimungkinkan memakai dana APBD di bawah naungan resmi Pengcab PSSI atau KONI,” ujar Charis Kurniawan melalui surat elektronik (surel) yang diterima mataairradio.com, Senin (8/12/2014) malam.

Dia juga menegaskan bahwa pengelolaan PSIR di musim berikutnya tidak lagi menjadi tanggung jawab PT RSM. Sebab sesuai dokumen kontrak yang ada, hak pengelolaan tim hanya berlaku sejak musim 2011-2012 hingga 2013-2014.

Charis menilai, ketika hak pengelolaan berakhir, maka PSIR secara otomatis kembali di bawah binaan Pengcab PSSI. “Hak pengelolaan PSIR oleh PT RSM telah berakhir di musim 2013-2014. Kami masih ingat dokumen keterangan pengelolaan itu selama 3 tahun, yakni mulai musim 2011-2012,” tandanya.

Meski mengusulkan agar PSIR mengikuti Liga Amatir agar mendapat sokongan dana dari Pemkab Rembang, Charis menyatakan bahwa secara ideal pondasi pengelolaan klub PSIR semestinya dilakukan secara profesional.

Bahkan saat workshop PSSI pada 2011 di Yogyakarta, pernah pula disarankan agar pengelolaan klub dibuat secara permanen profesional. Tentang teknis pengelolaannya, bisa dilakukan dengan cara gabungan dari berbagai elemen yang peduli dengan PSIR.

“Bisa dengan iuran gabungan, sehingga pemilik permanen PSIR adalah perusahaan yang dibentuk secara patungan itu sendiri atau mungkin dari Ganster membuat koperasi, kemudian urunan dengan tokoh peduli bola, lalu membuat PT untuk klub profesional,” ujarnya.

Namun Charis mengingatkan, konsekuensi klub profesional adalah bekerja mencari sumber pembiayaan secara mandiri, dan secara budaya di Rembang, masih relatif sulit.

“Kita masih hobi untuk ‘maido’ alias mencari kesalahan orang lain demi kepentingan pribadi,” pungkasnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan