Mengenal Demam Berdarah Ebola

Jumat, 17 Oktober 2014 | 14:21 WIB

 

Ilustrasi Ebola Virus Disease (EBV). (Foto:gannett-cdn.com)

Ilustrasi Ebola Virus Disease (EBV). (Foto:gannett-cdn.com)

 

mataairradio.com – Ebola Virus Disease (EBV) adalah salah satu jenis penyakit demam berdarah yang berakibat fatal pada manusia dan primata seperti monyet, gorila, dan simpanse. Penyakit Ebola memang mematikan, tapi ada pula beberapa orang yang sempat terpapar virus Ebola dan sembuh. Biasanya, penderita Ebola yang meninggal tidak memiliki respons imun yang baik.

Hingga kini, pembawa virus (host reservoir) penyakit Ebola belum diketahui. Namun, atas dasar bukti yang tersedia dan sifat virus yang sama, peneliti percaya bahwa kelelawar menjadi hewan perantara pembawa virus Ebola.

Virus Ebola menyebar melalui kontak langsung seperti melalui kulit yang luka atau selaput lendir, yaitu lewat:
1. Darah atau cairan tubuh orang yang sakit (air seni, air liur, tinja, muntahan, dan air mani).
2. Objek seperti jarum yang terkontaminasi cairan tubuh yang terinfeksi virus Ebola.
3. Hewan yang terinfeksi virus Ebola.

Tanda dan gejala tubuh terkena virus Ebola seperti ditulis di laman meetdoctor.com adalah mendadak demam dengan suhu lebih dari 38,6 derajat Celsius, nyeri kepala, nyeri otot, lemah, sakit tenggorokan. Selain itu, penderita penyakit Ebola juga mengalami diare, muntah, nyeri perut, kurangnya nafsu makan, ruam, gangguan fungsi ginjal dan hati. Gejala lainnya adalah perdarahan internal dan eksternal serta hasil cek laboratorium menunjukkan penurunan jumlah sel darah putih dan trombosit, juga peningkatan enzim hati.

Gejala-gejala ini dapat muncul 2 – 21 hari atau rata-rata 8 – 10 hari setelah seseorang terpapar virus Ebola. Penyakit lain yang biasanya terdeteksi sebelum seorang penderita didiagnosis Ebola antara lain malaria, demam typhoid, shigellosis, kolera, leptospirosis, meningitis, hepatitis, dan jenis demam berdarah lainnya. Infeksi virus Ebola dapat didiagnosis di laboratorium, tapi sayangnya sampai saat ini tidak ada vaksin atau obat tertentu (misalnya obat antivirus) yang terbukti efektif melawan virus Ebola.

Akan tetapi, bila infeksi virus Ebola diketahui lebih awal dan segera dilakukan terapi, kemungkinan bertahan hidup bisa lebih tinggi. Misalnya dengan memberikan cairan intravena (infus) dan menyeimbangkan elektrolit, mempertahankan status oksigen serta tekanan darah, juga segera mengobati infeksi.

 

Sumber: meetdoctor.com
Editor: Arif Bahtiar




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan