Usai Direvitalisasi, Biaya Perawatan Museum Kartini Bertambah Dua Kali Lipat

Rabu, 5 September 2012 | 06:56 WIB
Museum Kartini Rembang usai revitalisasi tahap pertama. (Foto: Pujianto)

KOTA, mataairradio.net – Revitalisasi tahap pertama Museum Kartini memang sudah selasai akhir 2011 silam. Namun, usai revitalisasi, persoalan muncul. Revitalisasi telah mengakibatkan melonjaknya biaya perawatan Museum Kartini.

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Dinbudparpora) Kabupaten Rembang, Noor Effendi, Rabu (5/9), mengakui anggaran yang saat ini tersedia untuk keperluan perawatan museum sudah tidak lagi cukup.

“Kendati ada kenaikan biaya perawatan, kami tegaskan bahwa Dinbudparpora tetap akan merawat Museum Kartini. Namun, praktis, kami harus mengajukan tambahan anggaran,” katanya.

Seperti diketahui, revitalisasi tahap pertama Museum Kartini anggaran Rp 4,8 miliar. Dengan revitalisasi itu, Museum Kartini kini dilengkapi dengan ruang audio visual, ruang perenungan, layar sentuh pembeber informasi seputar Rembang, dan kamera pengintai.

Museum Kartini pun menjadi memiliki 133 item koleksi dari sebelumnya yang hanya 98 item koleksi. Koleksi baru itu berupa foto, lukisan, baju, dan replika meja kursi.

Ia menyebutkan, di APBD 2012, pihaknya hanya menganggarkan biaya perawatan Museum Kartini sekitar Rp21juta. Anggaran sebesar itu, lanjutnya, ternyata tidak cukup untuk menutupi kebutuhan biaya perawatan seperti biaya listrik dan perawatan peralatan dan perlengkapan baru di museum itu.

“Pada APBD Perubahan 2012, kami berencana mengajukan tambahan anggaran untuk biaya perawatan Museum Kartini. Idealnya sih anggarannya dua kali lipat dari sebelumnya atau sekitar Rp40juta,” ungkap Noor Effendi. (Pujianto)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan