Samsi, Pawang Prosesi Hari Jadi Sejak Era Wachidi

Jumat, 31 Agustus 2012 | 08:07 WIB
Samsi Rahardjo. (Foto: Pujianto)

BULU, mataairradio.net – Setiap kali dihelat resepsi peringatan Hari Jadi Kabupaten Rembang, sosok pria ini hampir selalu menjadi pusat perhatian. Keberadaaannya penting di hampir setiap prosesi. Ia adalah Samsi Rahardjo, pemeran Resi Pawang yang mengusir aneka “memala” dan “sukerto” atau malapetaka dalam prosesi itu.

Pria kelahiran 17 Agustus 1948, warga RT 1 RW 1 Desa Mantingan Kecamatan Bulu itu kepada mataairradio.net, Jumat (31/8), mengaku, sudah sejak kepemimpinan Bupati Wachidi Riyono, didapuk menjadi pawang pada setiap prosesi resepsi Hari Jadi Kabupaten Rembang.

Sebagaimana pada prosesi Hari Jadi ke-271 Rembang, Kamis (30/8), Samsi memandu prosesi tolak bala terangkai dalam tarian gambuh. Ia pun telaten mengantarkan upacara yang diikuti dengan penyerahan bokor kuningan berisi beras kuning bercampur uang receh, dan kendi berdandan bunga tujuh rupa berisi air.

Begitu beras kuning dan uang receh disebarkan di depan pendopo dan kendi dipecah, upacara dilanjutkan dengan mengarak pusaka Kabupaten Rembang. Pusaka tersebut berupa songsong agung (payung kebesaran), tombak trisula, dan kotak kekancing.

“Kalau sekadar menjadi pemeran Resi Pawang, saya tak keberatan. Sebab, ‘memala’-nya juga bukan ‘memala’ beneran’. Hanya simbol saja. Kalau memala beneran, saya bukan ahlinya,” kata dia yang mengaku pernah menjadi seniman di beberapa grup ketoprak itu.

Sedikit, ia pun menuturkan, makna kirab songsong agung yang merupakan lambang pengayoman (perlindungan). Melalui kirab songsong agung seorang pemimpin diharapkan mampu melindungi masyarakat.

Adapun bokor berisi beras kuning bercampur uang receh, merupakan simbol seorang pemimpin yang berjiwa sosial dan mampu menyejahterakan rakyat, katanya.

Hal tersebut tidak terlepas dari sejarah Kabupaten Rembang yang dimulai dari pergerakan rakyat pada 1741. Waktu itu, pemerintahan berpusat di Lasem, bekas daerah kekuasaan Majapahit.

Seperti diketahui, ketika Lasem berada di bawah kekuasaan Kerajaan Mataram Islam, terjadi pemberontakan China dan masyarakat pribumi melawan “Verenigde Oost Indische Compagnie” (VOC). Gerakan rakyat yang dipimpin Raden Panji Margono, Oey Ing Kiat, dan Tan Kee Wie tersebut berhasil memukul mundur VOC pada 27 Juli 1741.

Gerakan rakyat itulah yang menjadi dasar hari jadi Kabupaten Rembang. Peristiwa itu menyiratkan perlunya pemimpin Rembang yang mengedepankan rakyat.

“Melalui prosesi semacam itu, harapannya agar masyarakat juga terus menghargai dan mencintai budaya daerahnya sendiri. Yang demikian juga perlu dilestarikan sebagai tinggalan anak cucu,” tandasnya.

Mengenai “profesinya” itu, ia berharap segera ada regenerasi. Sebab, meski hanya peran, menjadi Resi Pawang pun butuh totalitas. Perlu juga menjiwai setiap makna dalam rangkaian prosesinya. (Pujianto)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan