Pengelola Taman Kartini Bakal Gusur Warung Depan Timur

Jumat, 14 September 2012 | 10:19 WIB
Tampak depan timur Taman Rekreasi Pantai Kartini Rembang. (Foto: Pujianto)

KOTA, mataairradio.net – Pengelola Taman Rekreasi Pantai Kartini (TRPK) Rembang menilai tampak depan objek wisata pantai terbesar itu tak terlihat sedap dipandang. Alasannya, beberapa warung di bagian depan timur objek wisata itu tak beraturan.

Manajer Umum TRPK Rembang, Murwadi, Jumat (14/9), mengatakan pihaknya berencana menggusur warung-warung tersebut dan merelokasinya menjadi menghadap ke selatan sebagaimana satu gerai baru yang ada sekarang.

“Wacana itu akan segera kami sampaikan kepada pengelola warung-warung di bagian depan timur TRPK. Ini agar ‘view’ depan TRPK tampak lebih gamblang,” tandasnya kepada mataairradio.net.

Ia optimistis penggusuran itu bakal berdampak bagus bagi pengunjung, sebab selama ini sebagian besar pengunjung menilai sulit mengenali tampak depan Taman Rekreasi Pantai Kartini Rembang gara-gara tidak beraturannya beberapa warung itu.

“Tidak hanya menata ‘view’ depan, kami juga akan menambah rest area di kawasan dalam TRPK dengan merelokasi sejumlah bangunan yang dianggap tidak lagi efektif,” ungkapnya.

Murwadi menyebutkan, sejumlah bangunan di areal dalam TRPK yang bakal direlokasi keluar antara lain gerai penjualan produk madu dari Perhutani, Wanajava. “Rest area kami memang sudah habis sehingga kami mengusulkan relokasi gerai penjualan Wanajava keluar areal TRPK (di bagian depan, red.),” katanya.

Ia mengklaim, pihak Wanajava tidak berkeberatan dengan usulan itu. “Jika Wanajava pindah depan, mereka akan mendapatkan akses pembeli yang lebih luas, sedangkan bagi kami, bangunan di sebelah timur gerai Wanajava tersebut bisa kembali ke fungsi awalnya sebagai gasebo untuk pengunjung,” pungkasnya. (Puji)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan