Terinspirasi Komik, Mira Produksi Film Pendekar Tongkat Emas

Kamis, 16 Oktober 2014 | 11:49 WIB
Poster film Pendekar Tongkat Emas yang dibintangi Nicholas Saputra dan Reza Rahadian. (Foto:kaskus.co.id)

Poster film Pendekar Tongkat Emas yang dibintangi Nicholas Saputra dan Reza Rahadian. (Foto:kaskus.co.id)

 

mataairradio.com – Duo sineas Mira Lesmana dan Riri Riza kembali memproduksi film yang mengangkat tema silat Indonesia, “Pendekar Tongkat Emas”. Film ini disutradarai Ifa Isfansyah dan menghadirkan sederet bintang film papan atas Indonesia.

Aktor yang ikut berperan yaitu Christine Hakim, Reza Rahadian, Nicholas Saputra, Eva Celia dan Tara Basro.

Film ini mengisahkan dunia persilatan di sebuah negeri antah berantah. Di sebuah padepokan kecil bernama “Tongkat Emas”, hidup seorang guru silat yang sangat sakti bernama Cempaka (Christine Hakim).

Ia memiliki empat murid, yaitu Elang (Nicholas Saputra), Dara (Eva Celia), Biru (Reza Rahadian), dan Gerhana (Tara Basro). Suatu hari, Cempaka harus menurunkan kekuatannya berupa jurus mematikan kepada salah satu dari empat muridnya. Tongkat tersebut harus jatuh ke tangan yang tepat dan kompetisi pun dimulai. Keempat murid Cempaka itu kemudian bertarung untuk merebut ‘tongkat emas’ tersebut.

Dilansir  dari laman metrotvnews.com, Mira Lesmana selaku produser mengakui pembuatan film yang terinspirasi dari komik kesukaannya di waktu kecil ini memakan biaya yang sangat besar.

“25 milyar,” ujar Mira Lesmana saat syukuran film “Pendekar Tongkat Emas” beberapa waktu lalu. Biaya terbesar dikeluarkan untuk kebutuhan operasional, karena syuting film tersebut berlokasi di Sumba Timur.

“Alokasi terbesar ada di operasional. Saya harus membawa sekitar 110 orang ke Sumba Timur dan mereka harus tinggal di sana selama tiga bulan. Bahkan, tim artistik harus datang dua bulan sebelum kedatangan kami untuk membangun set. Biaya transportasi menjadi mahal juga di sana, karena tidak mudah menemukan alat transportasi yang memadai untuk kita di sana,” terang Mira pada talkshow Indonesia Superheroes “Pendekar Tongkat Emas” di PopCon Asia, Gedung Smesco, Jakarta, Sabtu (20/9/2014).

Mengapa harus mengambil lokasi syuting di Sumba? Mira dengan yakin mengatakan bahwa hanya Sumba lah tempat yang sangat tepat mewakili “negeri antah berantah” dari padepokan silat yang digambarkan di film tersebut. Soal balik modal, Mira tentu memikirkannya, tetapi ia yakin, film ini bisa menjadi penyegar bagi masyarakat Indonesia yang rindu memiliki sosok “hero” nya sendiri.

“Di film, risiko itu pasti ada. Sudah hampir dua puluh tahun generasi kita belum pernah ada yang bikin film silat. Saya tentu harus memikirkan bagaimana caranya penonton Indonesia mau menonton film ini,” terang produser “Ada Apa dengan Cinta?” dan “Gie”.

Selain film, Mira rupanya juga menyiapkan komik, novel, games, dan juga merchandise “Pendekar Tongkat Emas” untuk melebarkan sayap film tersebut.

Mira pun memberi kesempatan kepada para pengunjung PopCon Asia 2014 yang hadir pada talkshow tersebut untuk menyaksikan teaser trailer “Pendekar Tongkat Emas” secara eksklusif. “Gue udah punya teaser trailer, tapi ini belum dikeluarkan sama sekali karena musiknya, dari Erwin Gutawa, sebenarnya belum selesai,” ujar Mira.

Seluruh pengunjung pun tampak terpana menyaksikan trailer “Pendekar Tongkat Emas”. Para pengunjung memuji akting para pemainnya yang rela babak belur saat syuting demi mendapatkan adegan yang baik untuk film tersebut.

“Pendekar Tongkat Emas” siap tayang di seluruh bioskop tanah air pada 18 Desember 2014 mendatang. “Film ini wajib ditonton, karena ini film Indonesia pertama yang mengangkat martial arts klasik, yang memang disiapkan dengan kesungguhan dari kami semua di sini,” tutup Mira.

Inilah video penggoda (teaser),  klik  >> Pendekar Tongkat Emas

 

Sumber: metrotvnews.com
Editor: Arif Bahtiar




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan