Gilbert Pohan adalah Penyanyi, Pencipta Lagu, Pendatang Baru, Pekerja Keras

Kamis, 30 Oktober 2014 | 10:38 WIB
Gilbert Pohan. (Foto:traxmagz.com)

Gilbert Pohan. (Foto:traxmagz.com)

 

mataairradio.com – Seorang pria memutuskan bertransportasi dengan Metro Mini. Ia mengamati para penumpang lain dengan saksama, melihat perangkat komunikasi jenis apa yang mereka gunakan. Ia mendeteksi salah satu penumpang yang menggenggam iPhone dan menghampirinya.

“Kamu suka beli lagu lewat iTunes? Coba dengar deh albumku di iTunes. Aku artis baru, diproduseri oleh Glenn Fredly,” ujar pria tersebut. “Beli bagus, nggak juga nggak apa-apa, tapi coba dengar saja dulu.”

Begitulah pengalaman Gilbert Pohan seperti dilansir rollingstone.co.id, penyanyi dan pencipta lagu pendatang baru yang berada di bawah naungan Musik Bagus Indonesia selaku platform asuhan Glenn Fredly, dalam mempromosikan sendiri album perdananya, Pesan yang Tertunda.

Merilis karya dalam format album tentu merupakan mimpi bagi seluruh musisi. Sementara itu, seberapa keras mereka berupaya mewujudkan mimpinya itu dan kemudian bekerja keras dalam membuat karyanya didengar banyak orang dapat merefleksikan totalitas berkarier sebagai musisi.

Gilbert adalah satu dari sedikit orang di industri musik Indonesia yang pantas bila nama tengahnya adalah ‘Totalitas’. Ia bahkan pernah menyebar demo secara tradisional, ke hampir semua label rekaman dengan menggunakan ojek, bajaj dan Metro Mini. Hasilnya nol besar. Pengalaman yang ia tumpahkan menjadi lagu berjudul “Nyanyian Rumah.”

Kepada Rolling Stone, ia mengaku: “Sejak SMA, aku mau berkarier di musik. Nggak mau selain menjadi musisi.” Jika ditelisik, keinginan tersebut muncul karena lingkungan SMA-nya di Bontang, Kalimantan Timur, yang memang dikenal sebagai penghasil musisi-musisi andal, di antaranya ialah para personel Cokelat.

Tumbuh besar di Bontang, Gilbert kemudian hijrah ke Yogyakarta untuk kuliah. Ia sebetulnya ingin mengambil jurusan musik di Institut Seni Indonesia (ISI), namun terpaksa mengurungkan keinginannya karena bentrok visi dengan orang tua—STMIK AMIKOM pun menjadi kampusnya. Namun tentu saja, aktivitas bermusik terus mengiringinya bernapas.

Uniknya, walau kini Gilbert dikenal publik sebagai pria dengan vokal renyah, tadinya ia merupakan gitaris dan menginginkan untuk jadi player; bukan penyanyi. Ia baru bernyanyi saat vokalis bandnya menyatakan mundur ketika Eiffel—nama band Gilbert ketika itu—hendak ke Jakarta setelah dinyatakan lolos seleksi daerah pada LA Lights Indiefest 2009.

“Itu titik balik aku jadi penyanyi. Setelah vokalis mundur, aku dan yang lain berpikir: ‘Masa mundur sebelum berjuang?’ Keyboardist bilang ke aku, ‘Lagu kan ciptaanmu, kamu saja yang nyanyi.’ Ya sudah, yang penting berjuang,” kenang Gilbert.

Kerasnya perjuangan Gilbert dalam menjadi musisi profesional dapat dibuktikan dengan banyaknya kontes musik yang ia ikuti dan juga menangi. Menurutnya, ikut serta dalam kontes musik bermanfaat untuk cari pengalaman dan juga pemahaman tolok ukur kualitas pribadi.

Namun siapa sangka bahwa kontes musik yang juga membuka gerbangnya dalam merilis album. Tahun lalu, Gilbert tercatat sebagai salah satu peserta The Voice, tempat Glenn Fredly bertindak sebagai coach. Selama kompetisi berjalan, tidak pernah ada dialog antara Gilbert dan Glenn tentang rencana penggarapan album.

“Sampai akhirnya aku gugur, lalu The Voice kelar, aku terima e-mail dari manajemen Glenn yang mengajak rilis single. Aku antusias, langsung kirim beberapa lagu yang aku punya untuk pemilihan. Selang berapa minggu, ajakannya berubah menjadi album. Senang tapi sempat drop juga karena kondisi industri yang nggak ramah untuk album,” ujar Gilbert menceritakan.

Ia melanjutkan, “Tapi setelah aku pikir-pikir lagi, kenapa nggak? Kapan lagi punya kesempatan membagi dan memperkenalkan lebih dari satu lagu kepada publik.”

Pesan yang Tertunda—diproduseri Rifka Rachman bersama Glenn—dikerjakan selama berbulan-bulan yang jika mau dirampingkan adalah sekitar tiga bulan. “Banyak terpotong karena aku juga kerja,” ungkap Gilbert yang memandu program televisi anak-anak pada DAAI TV.

Bagi sang penciptanya, Pesan yang Tertunda adalah buku harian mengandung pesan yang bernyanyi. “Pesan itu macam-macam; ada motivasi, curahan hati, cerita yang siapa tahu bisa jadi suplemen untuk orang. Hanya saja, sebenarnya lagu dan pesan ini sudah ingin aku share dari beberapa tahun lalu namun tertunda karena baru dapat kesempatannya,” terang Gilbert.

Segala totalitas dan kerja kerasnya tak sia-sia. Tanpa rasa takut, sesuai dengan frase yang tertempel pada gitarnya: ‘Jangan Takut’, Gilbert melewati segala rintangan demi mewujudkan mimpinya. Ia memungkas, “Musik adalah cara paling mudah bagiku untuk mengolah nilai-nilai hidup. Kenapa nggak mati-matian di musik?”

 
Sumber: rollingstone.co.id
Editor: Arif Bahtiar




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan