Waspadai Daging Rusak

Kamis, 9 Agustus 2012 | 03:00 WIB
Ilustrasi. (Foto: republika.co.id)

REMBANG – Masyarakat Kabupaten Rembang diimbau waspada terkait beredarnya daging rusak yang mungkin beredar di pasaran. Sebab mengonsumsi daging yang telah rusak bisa membahayakan kesehatan manusia.

“Jika manusia mengonsumsi daging rusak (busuk atau gelonggongan, red.), maka akan terinfeksi bakteri dan menyebabkan diare,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dintanhut) Kabupaten Rembang, Suratmin, Kamis (9/8).

Pihaknya memaparkan bahwa menyimpan daging ada aturannya sehingga daging bisa tetap dikonsumsi dengan baik. “Simpan saja di dalam kulkas. Namun, itu pun ada aturannya,” kata dia.

Menurutnya, menyimpan daging di kulkas bisa kuat hingga sepekan, dengan catatan suhu tak boleh lebih dari 5 derajat Celcius.

Sedangkan jika daging disimpan dalam suhu lebih dari 10 derajat celcius, daging hanya kuat bertahan hingga tiga hari saja.

“Selain itu, bisa juga dalam freezer. Di dalam sini, daging bisa bertahan lebih dari sepekan. Caranya, daging disimpan rapatm” lanjutnya.

Hanya, imbuh dia, walaupun daging bisa bertahan lama dalam freezer, sebaiknya jangan terlalu lama menyimpan daging di freezer. Karena, semakin lama daging disimpan, maka gizinya pun akan semakin berkurang.

Ia menyebutkan, agar masyarakat tidak tertipu membeli daging yang telah rusak, perlu diketahui ciri-ciri daging yang baik.

Daging yang baik itu, katanya, dagingnya tidak berair, berwarna merah segar, serabutnya halus, memiliki aroma daging yang khas, lemaknya sedikit, serta cara penjualannya digantung.

“Kalau daging gelonggongan, umumnya penjual tidak berani menggantung dagingnya, karena kandungan airnya banyak,” paparnya.

Selain itu, Suratmin juga mengimbau agar masyarakat membeli daging di kios resmi yang terjamin kualitas dagingnya. “Masyarakat perlu teliti saat membeli dagingm” katanya.

Pihaknya memastikan, saat ini, tidak ada daging gelonggongan di pasaran Kabupaten Rembang. “Sebab, pasokan daging masih berasal dari lokal Rembang dan masih bisa dipantau,” ujarnya.

Dintanhut berjanji melakukan pengawasan secara rutin setiap pekan untuk memastikan tidak ada daging rusak yang beredar di pasaran Kabupaten Rembang.

“Pengawasan tetap kami lakukan. Sebenarnya tidak hanya ketika Ramadan atau menjelang Lebaran, tetapi juga pada hari-hari biasa,” tegasnya. (Puji)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan