Usaha Pemindangan Andalkan Pasokan Ikan dari China

Minggu, 20 Januari 2013 | 15:48 WIB

REMBANG – MataAirRadio.net, Pengusaha pemindangan ikan di Kabupaten Rembang belakangan bergantung pada pasokan ikan beku impor dari China menyusul kosongnya stok ikan lokal sepekan terakhir lantaran cuaca buruk memaksa nelayan tidak bisa melaut.

Berdasarkan pantauan reporter MataAir Radio, sejumlah pengusaha bahkan terpaksa menutup usahanya karena keterbatasan bahan baku ikan.

Eko Waluyo, pemilik UD Lovi Putra, salah satu usaha pemindangan ikan di sentra pemindangan di Desa Tasikagung, Kecamatan Rembang menuturkan, dalam sehari pihaknya harus mendatangkan ikan beku hingga 25 ton.

Eko menyebutkan, sepuluh ton di antaranya untuk keperluan sendiri. Sementara sisanya dipasok ke pengusaha pemindangan ikan lainnya di Tasikagung.

Eko menambahkan jenis ikan untuk usaha pemindangan yang banyak digunakan adalah salem dan layang. Ikan beku itu didatangkan dari Jakarta dan sebagian Muncar, Jawa Timur.

Syafroni, pemilik UD Alvian Putra, usaha pemindangan ikan lainnya di Tasikagung menyebutkan, harga ikan beku jenis layang berkisar Rp11.000 hingga Rp12.500 per kilogran. Sementara salem berkisar Rp11.500 hingga Rp12.000 per kilogram.

Karena harganya yang mahal, sejumlah pengusaha, termasuk dirinya memilih membatasi produksinya. Apalagi harga jual ikan pindang di pasaran tak bisa serta merta dinaikkan.

Harga jual ikan pindang di tingkat produsen berkisar Rp20.000 hingga Rp25.000 per ikat untuk jenis ikan layang, sedangkan jenis salem lebih mahal berkisar Rp25.000u hingga Rp30.000 per ikat.

Pos Informasi Pasar dan Perdagangan (PIPP) Kabupaten Rembang mencatat ada 171 pengusaha ikan pindang di kabupaten ini dan tersebar dari Kaliori hingga Sarang.

PIPP juga mencatat produktivitas ikan pindang di Kabupaten Rembang mencapai 5,3 juta kilogram per tahun dengan omzet sekitar Rp11,5 miliar per tahunnya.

Ikan pindang produksi Rembang biasanya dikemas dalam besek bambu, kuali, dan dalam bentuk presto dan dipasarkan ke berbagai wilayah seperti Blora, Purwodadi, Temanggung, Wonosobo, dan Yogyakarta. (Pujianto)




One comment
  1. munil

    Januari 30, 2013 at 5:29 pm

    nggak nyangka, rembang banjir ikan impor.

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan