Tiga Kali Petik, Hutang Petani Tembakau Lunas

Jumat, 7 September 2012 | 08:49 WIB
Petani melakukan kesalahan dalam pengebalan tembakau rajangan sehingga petugas dari PT Sadana Arifnusa terpaksa membongkarnya, baru-baru ini. (Foto: Pujianto)

REMBANG, mataairradio.net – Para petani tembakau marem di Kabupaten Rembang sudah mampu melunasi hutang-hutangnya kepada PT Sadana Arifnusa dari hasil hanya tiga kali petik “emas hijau” itu.

Kepala Bidang Perkebunan pada Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dintanhut) Kabupaten Rembang, Yosophat Susilo Hadi, Jumat (7/9), menyebutkan, hampir semua petani baru tembakau di daerah itu meminjam antara lain bibit dan sejumlah perlengkapan seperti mesin perajang kepada PT Sadana Arifnusa.

“Memang, PT Sadana memotong langsung hasil penjualan tembakau di awal-awal masa petik. Kelihatannya berat, lantaran petani juga membutuhkan uang untuk segera membayar para pekerjanya. Namun itu dilakukan perusahaan agar pada masa petik selanjutnya, petani bisa menikmati hasil panenan tanpa lagi memikirkan mengembalikan pinjaman,” terang dia.

Susilo juga menyebutkan, saat ini kebanyakan petani di Kabupaten Rembang sudah melakukan tiga kali petik dan diperkirakan masih ada empat kali panen lagi sebelum musim tembakau tahun ini tutup layar.

“Sudah petik tiga kali dan hutang-hutang mereka kepada PT Sadana Arifnusa lunas. Kini petani telah memiliki sendiri mesin perajang dan sejumlah peralatan lain. Masih ada empat bahkan lima kali petik lagi sebelum musim tembakau pada tahun ini selesai,” ujarnya.

Tahun ini, jumlah luasan tembakau di Rembang tak kurang dari seribu hektare. Jumlah petani yang mengembangkan komoditas itu mencapai 1.500 orang. Padahal, tahun lalu, jumlah petani yang mengembangkan tembakau marem hanya 200 orang.

Jika semua petani yang tahun lalu mengembangkan tembakau, juga mengembangkannya di tahun ini, berarti ada 1.200 petani tembakau baru.

Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Rembang, Maryono mengatakan, petani masih bisa menikmati keuntungan dari hasil panen tembakaunya, kendati di awal-awal masa petik, harga tembakau seperti tak bersahabat pada mereka.

“Kalau untuk petani yang sudah pernah menanam tembakau sebelumnya, mereka bisa menjaga keuntungan dari panenan karena sudah terbiasa dengan perajangan dan pengemasan yang benar. Namun bagi petani baru, yang awalnya sempat menganggap bertani tembakau sulit, hemat kami tetap ada keuntungan,” katanya.

Maryono menyebutkan, dari catatan yang dihimpunnya dari petani tembakau di kabupaten ini, saat ini harga beli tembakau sudah mencapai rata-rata Rp30.000 per kilogram.

“Meski harga tembakau ditentukan sesuai spesifikasinya, tingkat pembeliannya sudah mencapai rata-rata Rp30.000 per kilogram, karena petikan sudah memasuki daun tengah dan mulai merambah ke daun atas,” katanya.

Menurut dia, harga rata-rata pembelian tembakau petani di Rembang tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan yang ada di Weleri dan Temanggung. “Barangkali karena tembakau marem adalah tembakau yang rendah tar dan hampir bisa dipastikan bebas-Non Tobacco Related Material (NTRM),” tandasnya. (Pujianto)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan