Tempe-Tahu Bisa Menjadi Lauk Elit

Jumat, 27 Juli 2012 | 09:41 WIB
Menjemur kedelai. (Foto: detik.com)

REMBANG – Dunia sedang krisis kedelai saat ini. Kondisi ini diperparah dengan keengganan petani di sejumlah daerah seperti Rembang dalam mengembangkan komoditas pangan strategis itu. Kedelai langka. Harganya pun melambut. Perajin tahu-tempe terancam gulung tikar.

“Bisa-bisa, tempe dan tahu yang selama ini menjadi lauk yang paling merakyat, akan menjadi lauk yang elit, apabila tidak ada penanganan secara serius dari Pemerintah,” demikian menurut Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura pada Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Rembang, Mulyono, Jumat (27/7).

Ia berpendapat, nyaris tidak adanya upaya dari Pemerintah dalam menjaga kewajaran harga kedelai selama ini telah menjadi penyebab utama keengganan petani dalam mengembangkan bahan baku tempe dan tahu itu.

Di Rembang contohnya. Jika pada 2007 atau sebelum pengembangan agresif tebu, luasan lahan pertanian kedelai sempat tercatat seluas 8.000 hektare, maka pada 2012, luasannya diperkirakan hanya tinggal tak lebih dari 5.000 hektare.

“Kedelai harus menjadi perhatian Pemerintah. Sebab tempe dan tahu dicintai tidak hanya oleh kaum tua, yang muda juga. Pertanian kedelai perlu kembali diorbitkan,” kata dia.

Sebagai dukungan nyata agar Pemerintah terdorong mengorbitkan kembali pertanian kedelai, pihaknya sedang mengupayakan keberhasilan pengembangan 2.000 hektare tanaman kedelai melalui Sekolah Lapang-Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT) dan 50 hektare melalui APBD Provinsi pada 2012 ini.

“Dalam Juli ini, kami baru saja menyelesaikan ubinan panenan kedelai di Sedan. Hasilnya mencengangkan. Dari produktivitas rata-rata yang ditentukan hanya 1,12 ton per hektare, justru melesat menjadi 2,1 ton per hektare. Ini awal yang baik,” tandasnya.

Apalagi, selain provitasnya naik, harga kedelai juga sedang meroket. Harga kedelai di tingkat petani pada sepekan lalu mencapai Rp8.000 per kilogram, sehingga omzet panen per hektare bisa mencapai lebih dari Rp16juta. Dari omzet itu, ongkos produksi total yang dikeluarkan petani hanya sekitar Rp5juta.

“Kami berharap Pemerintah bisa menjaga kewajaran harga ini. Tidak hanya pada saat terjadi krisis kedelai dunia, tetapi juga pada kondisi normal. Ini penting untuk menjaga ‘ngeh’ petani dalam menanam kedelai,” kata dia.

Mulyono menyebutkan, tanaman kedelai banyak dikembangkan di wilayah Sedan, Kragan, Sale, Sluke, dan Pamotan. Petani di Rembang biasanya menanam kedelai selepas musim tanam kedua (MT-II).

“Saat ini pun masih ada petani di Rembang yang sedang dalam masa panen kedelai. Petani mengembangkan kedelai jenis gepak ijo selama ini,” kata dia.

Menurut dia, kedelai jenis gepak ijo tergolong adaptif terhadap cuaca Rembang yang cenderung panas. “Namun tanaman kedelai tetap saja butuh air. Dari umur kedelai yang 90 hari, air diperlukan pada saat tanaman memasuki hari ke-45 setelah tanam atau pada masa berbunga,” kata dia.

Ia pun berharap agar petani di Rembang kembali memperhitungkan prospek pertanian kedelai mengingat posisinya sebagai komoditas pangan strategis selain padi dan jagung.

“Dengan luasan rata-rata tanaman kedelai per tahun hingga 4.882 per hektare di Rembang, kami berharap tempe dan tahu tidak menjadi langka. Perajin tempe dan tahu juga diharapkan bisa berlangsung hidup,” tandasnya. (Puji)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan