Sempat Terkendala Air, Produktivitas Panen Kedua Anjlok

Selasa, 8 Mei 2012 | 23:45 WIB


KALIORI – Sejumlah petani di Kecamatan Kaliori dan Sumber mulai melakukan panen padi pada masa tanam kedua atau walik dami. Namun, sebagian petani mengaku produktivitas panennya anjlok antara lain karena sempat terjadi ketersendatan pasokan air jelang musim kemarau.

Seorang petani di Desa Sidomulyo Kecamatan Kaliori, Karmuji, Rabu (9/5) mengatakan, anjloknya produktivitas panen pada masa tanam kedua telah diprediksi sebelumnya.

“Sebab, ketika tanaman padi sedang berada pada masa masak susu, curah hujan mulai tersendat. Ketika itu, petani sadar bahwa hasil panenannya pasti anjlok,” terang dia.

Ia menyebutkan, pada musim tanam pertama kemarin, satu hektare lahan tanaman padinya masih mampu menghasilkan enam ton gabah kering panen.

“Namun, pada panen kali ini, paling-paling hanya mampu 4-4,5 ton atau turun antara 25-33 persen dibandingkan hasil panen musim pertama lalu,” kata dia.

Petani lainnya di Desa Sidomulyo, Karsin mengemukakan, menurut pengalaman, padi walik dami memang produktivitasnya rentan ajlok. “Selain pengaruh faktor cuaca berupa intensitas hujan rendah, sebagian tanaman padi petani ada yang diserang hama wereng,” tandasnya.

Watono, petani di Desa Tlogotunggal, Kecamatan Sumber menambahkan, hampir setiap tahun, produktivitas panen padi menurun. “Kalau petani di desa kami sih biasa mengalami hasil panen buruk di masa walik dami,” ujar dia.

Menurut dia, perubahan pola tanam dari gogo rancah ke pembenihan paling banyak berdampak terhadap produktivitas panen, selain soal gangguan cuaca dan serangan hama.

“Kalau pakai sistem gogo rancah, rumpun padinya kan banyak, sedangkan pada sistem pembenihan, rumpun padinya lebih sedikit. Jadi, terang saja produktivitasnya lebih banyak di musim tanam pertama,” jelasnya.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura pada Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Rembang, Mulyono pun mengatakan, tersendatnya curah hujan selama lebih dari dua minggu pada pertengahan hingga akhir April lalu telah banyak berdampak pada kualitas gabah panen.

“Ketika pada proses masak susu terjadi ketersendatan curah hujan, maka padi rawan gabuk dan dari sisi provitas (produktivitas tanaman per hektare, red.) jelas rendah,” tandasnya. (Puji)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan