Puluhan Hektare Tambak Garam Di Kaliori Puso

Rabu, 12 September 2012 | 09:06 WIB
Seorang kuli menormalisasi saluran sekitar tambak di Desa Purworejo, Kecamatan Kaliori, Rabu (12/9). (Foto: Pujianto)

KALIORI, mataairradio.net  – Puluhan hektare lahan garam milik petani di Kecamatan Kaliori mengalami puso seiring tersendatnya suplai air laut menuju saluran di sekitar tambak.

Seorang buruh tani garam asal Desa Babadan, Suji (73), yang ditemui di lahan garapannya di Desa Purworejo, Rabu (12/9), mengaku sudah tiga hari terakhir ini dirinya terpaksa menganggurkan 10 petak tambak lantaran ketiadaan air untuk memproduksi garam.

“Sudah seminggu terakhir, air laut tidak mampu mengalir ke saluran tambak lantaran terjadi pendangkalan parah di aliran sungai. Awalnya kami masih bisa berproduksi dengan memanfaatkan air sisa di polder (saluran sekitar tambak, red.). Namun, sudah tiga hari ini tidak bisa berproduksi sama sekali,” terangnya.

Ia menyatakan, apabila tidak segera ada upaya normalisasi, petani penggarap seperti dirinya akan kelimpungan tanpa penghasilan. “Harapannya Pemerintah bisa membantu menormalisasi aliran sungai,” tandasnya.

Muhammad Fuadi, pemilik tambak di desa setempat, mengaku terpaksa mempekerjakan seorang kuli untuk menormalisasi saluran sekitar tambaknya dengan upah Rp60.000 per hari.

“Segera kami lakukan normalisasi agar nanti ketika dilakukan pengerukan di sepanjang aliran sungai, polder ini bisa menampung lebih banyak air laut. Konsekuensinya memang keluar ongkos lebih banyak, Rp60.000 per hari untuk membayar satu kuli guna mengeruk saluran,” katanya.

Ketua Kelompok Petani Garam “Suka Maju” Desa Purworejo, Aspaat, menambahkan, lantaran saluran sekitar tambak yang sudah kering kerontang, sebagian petani menyebutnya terjadi puso alias gagal panen di puncak musim garam.

Menurutnya, normalisasi aliran sungai idealnya dilakukan setiap tahun, sebab kondisi tanah yang berpasir. “Jika normalisasi tidak dilakukan rutin, maka produksi petani tidak akan maksimal di setiap puncak musim garam,” tandasnya.

Ia menyebutkan, jumlah lahan produksi garam yang mengalami puso tidak hanya di Desa Purworejo. Bahkan, puluhan hektare lahan garam di Desa Dresi Wetan dan Dresi Kulon juga Desa Mojowarno telah mengalami puso sejak awal September 2012.

“Di Desa Purworejo saja ada setidaknya 20 hektare lahan tambak yang menganggur seiring dengan terhambatnya suplai air laur ke saluran tambak,” imbuh Kepala Desa Purworejo, Rasmani. (Pujianto)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan