Petani Rembang Ditantang Terapkan Metode Padi Singgang

Kamis, 9 April 2015 | 17:03 WIB
Sekda Rembang Hamzah Fatoni menerangkan hamparan Bendung Mojokerto didampingi Direktur Pengelolaan Air Irigasi Kementerian Pertanian Tunggul Iman Panudju (kiri) dan Danrem 073 Kolonel Bueng Warda. (Foto: mataairradio.com)

Sekda Rembang Hamzah Fatoni menerangkan hamparan Bendung Mojokerto didampingi Direktur Pengelolaan Air Irigasi Kementerian Pertanian Tunggul Iman Panudju (kiri) dan Danrem 073 Kolonel Bueng Wardadi. (Foto: mataairradio.com)

KRAGAN, mataairradio.com – Direktur Pengelolaan Air Irigasi Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian Tunggul Iman Panudju menantang petani Desa Mojokerto Kecamatan Kragan untuk menerapkan metode padi singgang.

Tantangan tersebut disampaikannya saat meresmikan Bendung Mojokerto bersama Komandan Korem 073 Makutarama Kolonel Kavaleri Bueng Wardadi, dan Sekda Rembang Hamzah Fatoni di Mojokerto, Kamis (9/4/2015) pagi. Singgang adalah anakan padi yang tumbuh setelah panen pertama.

Menurut Tungul, dengan metode singgang, petani bisa menghemat biaya hingga 30 persen atau sekitar Rp4,5 juta. Petani tidak perlu mengeluarkan biaya olah tanah, pembelian benih, dan biaya tanam, sebagaimana pada penerapan sistem biasa. Namun metode singgang perlu dukungan sedikit air.

“Metode singgang ini akan sangat membantu petani. Dari sisi biaya, bisa hemat hingga 30 persen, sekitar Rp4,5 juta (per hektare). Namun memang tidak bisa diterapkan di semua lahan. Perlu dukungan air, tetapi sedikit sudah cukup,” terangnya.

Tunggul juga menyebutkan bahwa beberapa daerah sudah menerapkan metode padi singgang seperti di Ngawi sekitar 35 hektar dan Tanah Datar sekitar 400 hektar. Di Rembang pun, ada beberapa petani yang menerapkan padi singgang, namun masih miskin pengetahuan.

Direktur Pengelolaan Air Irigasi menjelaskan, metode padi singgang yang benar dilakukan dengan memotong batang padi saat panen, dengan ketinggian lima centimeter dari permukaan tanah. Hal ini agar akar dari tunas baru yang keluar, bisa langsung menghujam ke tanah dan menjadi tanaman baru.

Menurut Tunggul, jika dipotong terlalu tinggi, maka singgang akan tumbuh kurang baik karena bertumpu pada induk padi sebelumnya. Malai atau buliran padi pun sulit terisi alias gabuk. Pihaknya mendorong menerapan metode padi singgang untuk meningkatkan produktivitas padi petani dalam setahun.

“Kalau yang menerapkan sudah banyak seperti di Ngawi dan Tanah Datar, daerah Batang Anai. Tetapi singgang ini harus dari potongan (batang padi saat panen) dengan ketinggian 5 centimeter, agar malainya bagus. Kalau terlalu tinggi, bulir padinya gabuk,” tegasnya.

Sekda Rembang Hamzah Fatoni mengatakan, infrastruktur untuk penyediaan air perlu ditambah guna peningkatan produktivitas pertanian di kabupaten ini. Salah satunya melalui program pengembangan sungai terpadu atau PPST.

Hamzah mengaku akan membendung lima sungai besar pada beberapa bagiannya untuk kepentingan PPST. Pada kesempatan itu, Sekda juga menyerahkan langsung dokumen PPST kepada Kementerian Pertanian melalui Tunggul Iman Panudju. Sekda juga berharap Gubernur membantu Rembang soal PPST.

Direktur Pengelolaan Air Irigasi Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian Tunggul Iman Panudju menantang petani Desa Mojokerto Kecamatan Kragan untuk menerapkan metode padi singgang.

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan