Petani Ketela Kesulitan Angkut Hasil Panen

Rabu, 18 Januari 2012 | 06:29 WIB
SUMBER – Sejumlah petani ketela di Kecamatan Sumber dan Bulu kesulitan mengangkut hasil panennya menyusul curah hujan yang cenderung tinggi sehingga menyebabkan jalan ke areal lahan menjadi lembek dan tidak bisa dilintasi kendaraan.

Seorang petani ketela di Desa Jadi, Kecamatan Sumber, Ngasri, Rabu (18/1) menyebutkan kondisi jalan menuju areal lahan yang lembek juga memaksa petani menunda panennya.

“Seharusnya kami sudah bisa memanen ketela pada lahan seluas empat hektare secara serentak. Namun, karena kondisi jalan yang lembek, kami terpaksa mengurungkan panen pada lahan yang relatif jauh dari jalan raya. Jika memaksa, kami bisa merugi,” kata dia.

Hingga saat ini, kata dia, dirinya baru bisa memanen ketela pada sekitar satu hektare lahan dengan produktivitas mencapai 12 ton.

Meski menunda masa panen, kata dia, kualitas ketela tidak terpengaruh. “Justru ketela menjadi lebih besar. Apalagi, ketela yang kami tanam adalah ketela industri jenis daplang, bukan untuk konsumsi langsung,” kata dia.

Ngasri juga mengatakan ketela jenis daplang relatif tahan terhadap cuaca basah. “Berbeda dengan jenis adira dan markonah yang relatif mudah membusuk jika kondisi tanah terlalu basah dalam waktu cukup lama,” kata dia.

Ia menyebutkan, saat ini harga ketela di tingkat petani relatif tinggi. “Jika pada pertengahan 2011 harganya hanya Rp800-Rp1.200 per kilogram, saat ini harganya melonjak menjadi Rp1.900-Rp2.000,” kata dia.

Sunarto, petani lainnya di Desa Pasedan, Kecamatan Bulu mengatakan, kebanyakan petani menanam ketela pada lahan tegalan atau lahan tidur yang cenderung marjinal.

“Memang sejumlah petani terkendala pengangkutan hasil panen. Hanya, ketika nanti cuaca sedikit terik, kami akan manfaatkan segera untuk memanen. Mumpung harganya lumayan bagus,” kata dia.

Apalagi, lanjut dia, ketika panen sudah mencapai puncaknya, biasanya tingkat refaksi menjadi tinggi.

“Saat ini refaksi atau potongan timbangan masih berkisar 25 persen, namun saat panen raya dan produksi melimpah, perusahaan atau tengkulak biasanya memberlakukan refaksi lebih tinggi hingga 40 persen. Belum lagi kemungkinan harga anjlok sehingga akan merugikan petani,” kata dia.

Berdasarkan cacatan Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Rembang, luasan lahan tanaman ketela lebih dari 5.000 hektare dengan produksi mencapai 70.000 ton. (Puji)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan