Petambak Garam Mulai Perbaiki Gudang Penyimpanan

Minggu, 27 Mei 2012 | 07:18 WIB


KALIORI – Sejumlah petambak garam di Kabupaten Rembang mulai memperbaiki gudang tempat penyimpanan hasil panen seiring dimulainya musim produksi garam tahun ini.

Musim produksi garam di Kabupaten Rembang pada tahun ini datang lebih cepat dibandingkan tahun lalu. Jika tahun lalu musim produksi garam dimulai pada awal Juli, tahun ini maju pada Mei.

“Sebagian petani garam yang sudah tidak memiliki simpanan (garam), mulai memperbaiki gudangnya. Perbaikan dilakukan pada kerusakan yang masih bertaraf ringan seperti kerusakan dinding gudang yang terbuat dari bambu,” terang Sanyoto, petani garam di Desa Purworejo, Kecamatan Kaliori, Minggu (27/5).

Karena perbaikan dilakukan atas jenis kerusakan ringan, kata Sanyoto, petani garam tidak mengeluarkan kocek dalam jumlah banyak. “Paling habisnya hanya puluhan ribu saja atau tidak lebih dari Rp100.000,” kata dia.

Gudang garam milik sebagian besar petani garam di Kecamatan Kaliori terbuat dari bambu.Memang ada yang terbuat dari kayu, tapi jumlahnya cukup minim.

“Kalau petani kecil, kapasitas gudang garamnya biasanya tak lebih dari 50 ton. Sebab, untuk membuat satu unit gudang dengan kapasitas itu, petani cukup mengeluarkan ongkos Rp3-5 juta,” papar Sanyoto.

Namun, lanjut dia, jika gudang yang dibuat berkapasitas besar atau lebih dari sama dengan 100 ton, anggarannya lumayan banyak. “Paling tidak belasan juta rupiah,” tegas dia.

Menurut Sanyoto, tidak banyak petani garam di kecamatan itu yang merehabilitasi total gudangnya di musim produksi tahun ini.

“Ya tadi, paling banter hanya perbaikan ringan. Kalau peremajaan total sudah dilakukan pada tahun lalu. Mungkin tahun depan baru akan ada peremajaan gudang lagi,” tegasnya lagi.

Petani garam di sejumlah daerah di Kabupaten Rembang seperti Kaliori dan Lasem kini memasuki panen perdana. Namun, harga garam terbilang sangat rendah.

Rendahnya harga garam itu, menurut petani disebabkan oleh kualitas buliran kristal garam yang masih lembut sehingga garam hanya masuk kualitas kedua (KW II).

“Harga garam hasil panen pertama hanya dihargai Rp300 per kilogram oleh pasaran. Harga tersebut terbilang rendah bahkan pas-pasan. Jika kurang dari harga itu, petani sudah pasti merugi,” terang Mastur, penggarap tambak garam asal Dusun Wates Desa Tasikharjo, Kecamatan Kaliori. (Puji)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan