Petambak Garam Didorong Manfaatkan Polder

Jumat, 25 Mei 2012 | 10:00 WIB


KALIORI – Dinas Kelautan dan Perikanan (Dinlutkan) Kabupaten Rembang mendorong petani untuk memanfaatkan polder di sekitaran tambak garam setempat sebagai tempat membudidayakan udang guna menambah penghasilan.

Kepala Bidang Pengawasan dan Perlindungan Sumber Daya Kelautan pada Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Rembang, Pamuji, Jumat (25/5), menuturkan polder atau tanah yang digenangi air dan dikelilingi tanggul tambak, dimanfaatkan petambak garam untuk menampung air bahan baku garam.

“Tingkat kegaraman air yang ditampung di polder masih dalam batas toleransi untuk keperluan pembudidayaan udang sehingga bisa dimanfaatkan petani garam untuk menambah penghasilan,” terang Pamuji kepada wartawan.

Justru, lanjut dia, petani perlu menjaga kelancaran pasokan air laut ke polder untuk menjaga kegaraman air. Sebab, kata dia, pengaruh penguapan akan memicu peningkatan secara drastis kadar garam.

“Jika kadar garamnya terlalu tinggi, kelangsungan hidup udang menjadi terancam, bahkan mati,” kata Pamuji.

Ia menyebutkan, pemanfaatan polder untuk budidaya udang bukanlah hal baru. “Pada musim produksi garam tahun lalu sejumlah petani berhasil dengan cara ini. Kami menganjurkan petani untuk kembali melakukannya,” tandas dia.

Ia juga menjelaskan, membudidayakan udang di polder tambak garam terbilang efisien. Sebab, kata Pamuji, pakan udang berupa telur dari hewan artemin bisa didapat petani secara gratis pada kolam penguapan air garam.

“Hewan artemin itu biasanya muncul pada kolam air garam sebelum airnya dituang ke meja garam,” kata dia.

Menurut Pamuji, hewan artemin sebagai pakan udang alami itu laku dijual. “Biasanya laku hingga Rp250.000 per kilogram,” tegas dia.

Ditambahkan, dorongan memanfaatkan polder untuk budidaya udang terus disosialisasikan pihaknya bersamaan dengan verifikasi data penerima program pemberdayaan usaha garam rakyat (Pugar) tahun 2012.

Apalagi, imbuh dia, bantuan dana Pugar bisa digunakan petani garam antara lain untuk menata lahan dan membuat polder yang layak, selain juga untuk membeli peralatan seperti mesin sedot.

Namun, dorongan memanfaatkan polder sebagai media pembudidayaan udang terkendala oleh ketersediaan polder yang memadai di sekitaran tambak masing-masing petani.

Di Dusun Wates Desa Tasikharjo, Kecamatan Kaliori misalnya. Tidak banyak petani garam di dusun itu yang memiliki ukuran polder yang memadai dan layak.

“Polder di sekitaran tambak garam petani di sini cenderung sempit dan dangkal, sekaligus menjadi kendala jika dimanfaatkan untuk pembudidayaan udang,” terang Mastur (47), petani penggarap lahan tambak garam Dusun Wates. (Puji)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan