Perajin Gula Tumbu Kesulitan Tenaga Kerja

Senin, 11 Juni 2012 | 14:17 WIB


SULANG – Harga gula tumbu yang relatif tinggi di pasaran saat ini, membuat para produsen gula tumbu di Kabupaten Rembang terpacu untuk meningkatkan jumlah produksinya. Hanya saja, mereka mengalami kendala serius terkait sulitnya mencari tenaga kerja untuk proses giling.

Menurut Pandhol, salah seorang perajin gula tumbu asal Desa Jatimudo, Kecamatan Sulang, sulitnya mencari tenaga kerja disebabkan banyaknya tenaga kerja kasar yang sudah terserap dalam proyek penanaman tembakau yang saat ini populasi lahannya di Kabupaten Rembang mengalami peningkatan signifikan.

“Kita kesulitan mencari tenaga giling. Mereka yang biasa menjadi tenaga giling saat panen tebu tiba sudah beralih menjadi buruh tanam dan buruh rawat tembakau yang menyita banyak tenaga kerja,” kata Pandhol, Senin (11/6).

Akibatnya, tambah Pandhol, beberapa perajin yang memiliki lebih dari satu set alat giling pada rumah produksi atau brak, hanya mampu mengoperasionalkan satu alat giling.

“Karena minimnya tenaga giling, para perjain hanya mampu mengoperasionalkan satu alat giling. Padahal, setiap satu brak rata-rata memiliki lebih dari satau alat giling. Akibatnya, beberapa alat giling dibiarkan nganggur sehingga jumlah produksi tak maksimal,” tambahnya.

Hal sama juga dikatakan Sakijan, salah satu perajin gula tumbu asal Desa Karangharjo, Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang, Menurutnya, bertambahnya populasi tanaman tembakau di daerahnya, mengakibtkan sejumlah perajin gula tumbu kesulitan mencari tenaga kasar untuk proses tebang maupun giling.

“Permasalahan tenaga kerja, baru tahun ini kami alami. Penyebabnya karena tenaga kerja lokal yang ada, sudah tersedot pada proyek tembakau. Akibatnya, kami harus mendatangakan tenaga kerja dari luar daerah dengan upah yang lebih tinggi,”imbuhnya.

Ia menambahkan, sedikitnya setiap satu set alat giling dalam proses pembuatan gula tumbu dibutuhkan tenaga kerja sebanyak lima orang. “Namun karena sulit mememenuhi kebutuhan tenaga kerja, kita terpaksa mengoperasionalakan satu set alat giling hanya tiga orang. Ini mengakibtkan hasil produksi tak optimal,” tegasnya.

Disebutkannya pula, setiap satu kali proses giling (satu gulingan) menghasilkan gulu tumbu berkisar antara 5 hingga 6 ton dengan rentan waktu produksi mencapai 7 hingga 9 hari.

“Untuk upah tenaga giling, perhitungannnya per tonase. Setiap satu ton, biaya giling mencapai Rp350.000,” tambahnya.

Lantaran sulitnya mencari kerja, beberapa perajin gula tumbu mengaku tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya bisa berupaya memaksimalkan kinerja para pekerja yang ada dengan memberikan iming-iming tambahan bonus penghasilan pada setiap selesai gulingan.

Saat ini, harga gula tumbu di pasaran menembus harga Rp6.500 per kilogram. Harga ini jauh lebih baik dibanding harga tahun lalu yang hanya berkisar Rp4.500 hingga Rp5.000 per kilogram. (Rom)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan