Perajin Genteng Dan Batu Bata Terkendala Modal Usaha

Minggu, 15 Januari 2012 | 04:22 WIB

Bulu – Perajin industri rumahan berbahan baku tanah di Kabupaten Rembang yang tergabung dalam klaster genteng dan batu Bata Rembang berharap mendapatkan perhatian dan kepedulian dari pemerintah setempat. Pasalnya, hampir lima tahun lembaga ini berdiri,  belum ada kepedulian berarti dari instansi terkait untuk memajukan usaha yang mereka geluti.

“Kami berharap pemerintah memberi perhatian untuk kelangsungan usaha kami utamanya penguatan modal usaha,” kata Kin Abadi, Ketua Klaster Genteng dan batu bata, pekan lalu.

Menurutnya, permasalahan yang dihadapi perajin genteng dan batu bata adalah keterbatasan modal usaha. “Karena modal yang terbatas, perajin tak cukup mampu membeli peralatan kerja modern untuk mengembangkan usaha,” tambahnya.

Untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi, sekaligus  memenuhi permintaan pasar, peralatan modern berupa mesin penggiling tanah mendesak diadakan.

“Selama ini mereka mengerjakan secara manual. Kita butuh mesin penggiling tanah atau molen yang mampu menghasilkan bahan baku batu bata dan genteng berkualitas sehingga genteng dan batu bata yang dihasilkannya pun lebihber kualitas juga,” tegasnya.

Ia menambahkan, saat ini nggota klaster genteng dan batu bata sementara baru mencakup empat kecamatan, Sedan, Bulu, Sulang dan Sumber. Kedepan kami akan mengembangkan keanggotaan ke daerah lain.”

Untuk menghindarkan persaingan tak sehat, setiap permasalahan yang berkembang di lapangan secara berkala akan dibahas ke forum rembug klaster.

“Selama ini yang kerap muncul adalah persaingan tak sehat. Untuk menghindari hal itu, butuh regulasi yang mengaturnya . Hal itu sangat penting karena saat pasar lesu sementara produk menumpuk, tidak ada anggota yang main banting harga,’ imbuhnya lagi. (Rom)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan