Perajin Batik Lasem Diminta Bayar Upah Sesuai UMK

Kamis, 27 September 2012 | 10:18 WIB
Seorang perajin menggelar lembaran batik tulis lasem kepada pengunjung pada sebuah kesempatan di Lasem, belum lama ini. (Foto: Pujianto)

LASEM, mataairradio.net – Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kabupaten Rembang meminta perajin batik tulis lasem yang telah merambah pasar luas agar membayar upah untuk para pekerjanya sesuai ketentuan upah minimum kabupaten (UMK).

Kepala Dinsosnakertrans Kabupaten Rembang, Waluyo, Kamis (27/9), mengemukakan, saat ini sudah cukup banyak perajin yang omzet usahanya sudah terbilang tinggi.

“Beberapa perajin bahkan sudah membukukan transaksi hingga satu miliar rupiah per bulan. Perajin yang demikian, sudah saatnya membayar upah untuk para pekerjanya sesuai UMK,” tandasnya.

Pihaknya mencatat ada setidaknya tiga perajin batik yang mestinya sudah harus membayar upah sesuai UMK lantaran usaha mereka yang sudah stabil.

“Misalnya Batik Purnomo, Pusaka Beruang, dan Gunung Bugel Art. Mereka ini adalah perajin yang telah cukup sukses menjalankan usahanya,” katanya.

Seperti diketahui, Pemerintah Kabupaten Rembang memutuskan mengusulkan adanya kenaikan besaran upah minimum kabupaten (UMK), dari Rp816.000 per bulan pada 2012 menjadi Rp896.000 pada 2013 atau naik Rp80.000, kepada Gubernur Jateng.

Besaran UMK yang diusulkan naik sembilan persen tersebut, sudah nyaris sama dengan angka rata-rata kebutuhan hidup layak (KHL) Rembang yang Rp914.118,66.

Menanggapi imbauan tersebut, Ketua Klaster Batik Tulis Lasem, Rifai pun berpendapat, kewajiban membayar upah bagi para pekerja sesuai UMK, tidak bisa diterapkan untuk setiap perajin.

“Secara umum, perajin batik tulis lasem masih merupakan pelaku industri kecil. Tentu, jika kewajiban membayar upah sesuai UMK di-‘gebyah-uyah’, tentu banyak yang keberatan,” ujarnya.

Ia pun cenderung setuju dengan wacana pemkab setempat yang hanya mewajibkan pembayaran upah sesuai UMK, terbatas pada mereka yang usahanya telah stabil.

“Hanya, sebenarnya membayar upah bagi pekerja secara bulanan tidak cukup lazim bagi perajin batik tulis lasem. Sebab, kebanyakan pekerja cenderung meminta upah harian,” katanya.

Ia menyontohkan di usahanya, Gunung Bugel Art. “Di tempat saya, para pekerja mendapatkan upah rata-rata Rp30.000 (jika dihitung dengan jatah makan dan cemilan siang, red.). Jika dikalikan 30 hari, tentu besarnya Rp900.000, melebihi UMK,” terang dia.

Hanya, kata Rifai menegaskan, memang agak sulit kalau upah untuk pekerja itu diberikan per bulan, karena mereka umumnya ibu rumah tangga sehingga menginginkan bayaran diberikan harian. (Pujianto)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan