Pemkab Dilema Toko Modern

Selasa, 7 Februari 2012 | 08:43 WIB


KOTA – Pemerintah Kabupaten Rembang menyebut pembatasan toko modern berjejaring yang gencar bermunculan di daerah itu sebagai dilema sehingga belum akan ada tindakan penanganan dalam waktu dekat.

“Pembatasan toko modern oleh pemkab jelas merupakan sesuatu yang dilematik. Pada satu sisi, pemkab perlu menumbuhkan investasi, sedangkan di sisi lain, toko tradisional juga perlu diselamatkan,” kata Sekretaris Daerah Kabupaten Rembang, Hamzah Fatoni menanggapi gencarnya pendirian toko modern di kabupaten setempat, Selasa (7/2).

Hamzah menjelaskan, salah satu model untuk mengukur pertumbuhan ekonomi suatu daerah adalah dengan tingkat investasi. “Adapun bukti tumbuhnya investasi antara lain dengan meningkatnya daya beli. Maraknya pendirian toko modern berjejaring dilatari alasan daya beli itu,” kata dia.

Namun, kata dia, toko tradisional belum tentu bisa berkompetisi secara sehat dan normal. “Prinsipnya, selagi toko modern dan toko tradisional masih bisa sejalan serta mampu berkompetisi secara sehat dan normal itu belum jadi soal. Karena itu, penataan dan pembatasan toko modern berjejaring perlu kajian secara komprehensif,” kata dia.

Hamzah mengatakan, pemkab bersama dengan DPRD Kabupaten Rembang memang sudah memprogramkan penyusunan peraturan daerah untuk menata toko modern berjejaring di daerah itu.

“Hanya, raperda yang bakal dibahas nantinya, harus mengadopsi dan melindungi kepentingan berbagai pihak,” kata dia.

Menurut dia, sembari menanti penyusunan peraturan daerah tuntas disusun dan ditetapkan, toko modern dan tradisional akan dibiarkan bersaing secara alami. “Kondisi di lapangan, toko modern dan tradisional seperti sudah ada konsensus alamiah. Misalnya, jika membeli produk A bisa ke toko tradisional, namun produk B di toko modern,” kata dia.

Mengenai jarak sejumlah toko modern yang terlalu dekat dengan toko tradisional, Hamzah mengatakan, pemkab belum bisa mengaturnya secara terperinci. “Kami masih harus mengkajinya lebih lengkap,” kata dia.

Pada kesempatan lain, rencana pendirian toko modern di kawasan dekat Pasar Desa Tambakagung dikeluhkan pedagang setempat. Para pedagang menyayangkan pendirian toko modern berjejaring yang dinilai terlalu memaksa dan sama sekali tidak ada pemberitahuan sebelumnya.

“Jangan sekadar mempertimbangkan belum adanya toko modern di wilayah Kaliori. Tetapi, investor mestinya juga ada koordinasi dengan pedagang. Pedagang keberatan atau tidak,” kata salah seorang pedagang di pasar setempat, Rusmanto. (Puji)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan