Panen Kedua, Petani Hindari Praktik Ijon

Rabu, 9 Mei 2012 | 23:00 WIB


REMBANG – Sejumlah petani di Kabupaten Rembang memilih menghindari praktik ijon di panen kedua lantaran mereka lebih memanfaatkan hasil panen untuk persediaan pangan hingga musim tanam berikutnya.

“Kendati kami sempat melakukan ijon di panen pertama, namun di panen kedua ini kami tidak akan melakukannya. Kami harus mengamankan persediaan pangan hingga musim tanam tahun depan,” kata seorang petani di Dukuh Balong Wetan Desa Kumendung, Kecamatan Kota Rembang, Jarwanto, Kamis (10/5).

Ia pun mengatakan, tidak dilakukannya praktik ijon di panen kedua juga lantaran hasil panen kemarin telah mampu menutup sejumlah tanggungan biaya yang dikeluarkan selama musim tanam pertama.

“Kalau pada panen pertama, sekitar 40 persen petani di desa kami memang memilih menjual hasil panennya dan sebagian besar dilakukan dengan praktik ijon. Namun, di panen kedua, hampir semuanya tidak dijual. Apalagi dengan sistem ijon,” tegas dia.

Watono, petani lainnya di Desa Grawan, Kecamatan Sumber mengemukakan hal senada. “Petani kebanyakan dikejar pengembalian utang biaya tanam pertama atas sejumlah kredit yang bersifat ‘yarnen’ (utang untuk ongkos tanam yang dibayar ketika panen, red.) sehingga melakukan ijon,” terang dia.

Namun, karena tak ingin kekurangan stok pangan sampai dengan musim tanam tahun berikutnya, kata dia menegaskan, dirinya tak mau terjerat dalam praktik pembelian padi yang dilakukan pada sebelum padi masak dan baru diambil pengijon ketika sudah masak.

Ia menyebutkan, sebagian petani di daerahnya kini mulai melakukan panen kedua. “Hampir semuanya tidak ada yang jatuh ke tangan pengijon. Hasil panen murni untuk persediaan pangan selama setahun,” kata dia.

Karmuji, petani lainnya di Desa Sidomulyo, Kecamatan Kaliori menambahkan, petani ogah melakukan ijon lantaran proyeksi harga beras yang cenderung terus menanjak.

“Nampaknya harga beras bakal menguntungkan petani. Karena itu, jika pun petani berniat menjual hasil panennya, tidak mungkin secara ijon. Tetapi lebih baik menimbunnya hingga harga beras semakin menguntungkan,” kata dia.

Terlepasnya praktik ijon di kalangan petani Kabupaten Rembang juga diakui Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura pada Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Rembang, Mulyono.

Menurut dia, tingkat kesejahteraan sebagian besar petani yang semakin meningkat menjadi alasan utama tidak lagi berlakunya praktik ijon.

“Bahkan, petani kini mulai mampu dan mau menabung sebagian hasil panennya dan baru akan menjualnya di kala harga beras membaik. Itu pun petani melakukannya secara bertahap,” terang dia melalui layanan pesan singkat kepada suararembang. (Puji)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan