Nelayan Pilih Tak Menangkap Udang

Rabu, 4 April 2012 | 07:46 WIB


KOTA – Sejumlah nelayan tradisional di pesisir Kota Rembang memilih tak lagi menangkap udang dan beralih menangkap ikan teri meski saat ini musim udang belum habis.

Sekretaris Desa Pasarbanggi, Maskut, Rabu (4/4) mengatakan, pilihan nelayan itu lantaran ongkos untuk menangkap udang lebih mahal dibandingkan jika menangkap ikan teri.

“Untuk menangkap udang, biasanya akan menghabiskan solar hingga 30 liter, sedangkan menangkap ikan teri cukup dengan perbekalan solar maksimal 10 liter,” kata dia.

Apalagi, menangkap udang juga gampang-gampang susah. Sebab, selain jarak melaut yang cukup jauh, menangkap udang juga penuh ketidakpastian, imbuh dia.

“Saat ini, banyak nelayan yang memarkir alat tangkap udang dan menggantinya dengan alat untuk menangkap teri. Nelayan segera beralih menangkap ikan teri juga demi memanfaatkan harganya yang masih tinggi,” kata dia.

Di tingkat tengkulak, kata Maskut, ikan teri masih dihargai Rp14.000-Rp15.000 per kilogram. “Dalam sehari, satu perahu nelayan bisa membawa pulang 20-25 kilogram ikan teri. Berangkat melaut seusai waktu subuh dan pulang sekitar pukul 12.00 WIB,” kata dia.

Sementara, harga udang kini masih berkisar Rp85.000-Rp90.000 per kilogram. “Namun perolehan tangkapan udang per perahu hanya beberapa kilogram saja. Rawan tekor perbekalan (jika memaksakan menangkap udang),” kata dia menambahkan.

Ia juga menambahkan, saat ini, nelayan di desanya juga sudah mulai mempersiapkan jagrak, alat tangkap ikan tengiri. “Jika tangkapan ikan teri mulai sepi, nelayan bisa segera beralih menangkap ikan tengiri dengan jagrak,” kata dia.

Menurutnya, sebagian besar nelayan akan mulai menangkap ikan tengiri pada medio Mei hingga Juni. “Begitu tangkapan ikan teri berangsur sepi, nelayan akan berganti menangkap tengiri,” tegas dia. (Puji)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan