Industri Batik Tulis Lasem Melesu

Senin, 2 Oktober 2017 | 10:01 WIB

Para pembatik sedang berkarya di salah satu rumah produksi batik tulis lasem, Ningrat, baru-baru ini. (Foto: Mukhammad Fadlil)

 

REMBANG, mataairradio.com – Industri batik tulis lasem disebut melesu sejak 2015 hingga momentum peringatan Hari Batik, 2 Oktober 2017.

Pemicunya menurut salah seorang perajin batik tulis Lasem, Rifai, adalah perekonomian nasional yang belum sepenuhnya bergairah.

Ia menyebut, penurunan tingkat omzet penjualan batik tulis lasem sejak 2015 hingga 2017 berkisar antara 10-20 persen.

Namun Rifai tidak menyebut jumlah omzet tahunan yang dibukukannya.

“Batik tulis lasem merupakan komoditas dengan harga menengah ke atas, sehingga bergantung terhadap kondisi perekonomian,” ujar Rifai.

Agar pasar batik tulis kembali bergairah, menurutnya, perajin tidak bisa bergerak sendirian.

Memang, katanya, perajin harus terus mencipta kreativitas di antaranya tidak tergantung pada produksi kain lembaran, tetapi juga merambah produk jadi seperti baju, syal, dan lainnya.

“Tetapi Pemerintah perlu juga mendorong penggarapan pasar internasional melalui pelatihan secara lebih intensif,” katanya.

Ia mengakui, Pemerintah beberapa kali menggelar pelatihan pemasaran di luar negeri, tetapi tindak lanjut setelah pelatihan belum optimal.

“Mestinya tidak hanya pemasaran online, tetapi Pemerintah membantu para perajin mengenalkan pasar internasional,” katanya.

Pada momentum Hari Batik kali ini, Rifai yang merupakan tokoh perbatikan di Rembang, Rifai ingin Pemerintah lebih aktif membantu para perajin batik tulis lasem.

“Kami terimakasih atas perhatian Pemkab Rembang yang mengorder 7.400 potong baju batik tulis lasem guna para ASN kepara para perajin. Ke depan, yang seperti ini perlu ditingkatkan,” paparnya.

Pada kesempatan perbincangan dengan mataairradio.com, Rifai juga berharap kepada Pemkab Rembang kembali serius soal isu regenerasi pembatik melalui muatan lokal batik tulis di tiap sekolah.

“Kami masih berharap kepada Pemkab agar membuat payung hukum seperti Perda untuk melindungi batik tulis lasem, terutama menyangkut regenerasi pembatik melalui pelajaran muatan lokal di sekolah,” pungkasnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan