Usai Idul Adha, Harga Cabai Keriting Bertahan Tinggi

Selasa, 7 Oktober 2014 | 15:00 WIB
Ilustrasi cabai merah kriting. (Foto:Rif)

Ilustrasi cabai merah kriting. (Foto:Rif)


KALIORI, mataairradio.com –
Harga cabai keriting di tingkat petani masih bertahan tinggi, meski momentum Idul Adha telah usai. Hingga Selasa (7/10/2014), harganya masih Rp16.000 per kilogram.

“Harga (cabai keriting) masih ajek, Rp16.000. Kami cukup menikmati harga ini dan semoga harganya bertahan tinggi sampai semua petani selesai panen,” ujar Sumijan, petani cabai di Dusun Mulo Desa Gunungsari Kecamatan Kaliori, Selasa (7/10/2014) siang.

Masih tingginya harga cabai keriting diduga akibat dari permintaan yang tidak diimbangi dengan ketersediaan barang di pasaran. Jumlah petani yang panen, kini tinggal beberapa orang.

“Hanya sebagian kecil petani yang menikmati, Mas. Lagipula banyak petani yang tanaman cabainya diserang penyakit keriting daun, bahkan tak sedikit yang telah mati meranggas karena kemarau,” imbuhnya yang baru saja menjual dua kuintal cabai keriting.

Ngatijan, petani cabai lainnya di Desa Kuangsan kecamatan setempat menyebut, harga cabai keriting yang mencapai Rp16.000 per kilogram sudah terjadi sejak awal September lalu.

“Pertengahan Agustus lalu, harga cabai keriting Rp6.000 per kilogram. Lalu mulai awal September, harganya melejit menjadi Rp16.000,” katanya.

Dia mengakui, hasil panen menurun drastis akibat serangan keriting dan jamur. Seperempat hektare lahannya yang biasa terpanen tiga kuintal cabai per sekali petik, kini hanya terpanen satu kuintal.

“Kami sudah berusaha menangkal serangan penyakit dengan pestisida dan fungisida. Namun nyatanya membandel. Ya memang nasib,” katanya.

Ngatijan yang Ketua Kelompok Tani Ngudi Karya Utama ini juga terganggu oleh ketersendatan pasokan air di musim kemarau. Perkembangan cabai menjadi terhambat akibat krisis air.

“Kalau soal kering, lahan ini ya sudah lama kekeringan. Nyiram ya sedikit-sedikit saja dari sumur di sawah-sawah ini,” pungkasnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan