Hujan Turun Tiba-Tiba, Tembakau Rawan Diserang Klaper

Jumat, 18 Mei 2012 | 07:33 WIB


REMBANG – Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dintanhut) Kabupaten Rembang mewanti-wanti sekitar 1.500 petani tembakau di kabupaten itu untuk mewaspadai hujan yang mungkin turun secara tiba-tiba di awal musim kemarau ini.

Menurut Kepala Bidang Perkebunan pada Dintanhut Kabupaten Rembang, Yosophat Susilo Hadi, Jumat (18/5), hujan yang turun secara tiba-tiba rawan mengundang klaper atau kupu-kupu kecil dan bisa mengancam pertumbuhan daun tembakau.

“Klaper ini rawan muncul dan menempel di daun tembakau manakala cuaca panas secara tiba-tiba berganti hujan atau gerimis dalam waktu yang relatif lama,” terang dia.

Hujan secara tiba-tiba, lanjut dia, juga bisa merangsang pertumbuhan ulat-ulat di sekitaran lahan tembakau. “Hujan memicu telur ulat cepat menetas. Jika sudah demikian, ulat-ulat itu akan dengan cepat merayap dan menempel di daun-daun tembakau,” terang dia lagi.

Pada kondisi demikian, kata Susilo, petani diminta segera sigap dengan meredakan serangan ulat secara alami. “Ya dibunuh secara alami. Di-‘pithesi’,” tegasnya.

Namun, imbuh dia, jika serangan ulat mulai mengganas, petani bisa saja mempertimbangkan penggunaan obat antiulat, namun dengan dosis rendah.

“Pengendali ulat ini bisa menggunakan Metindo. Catatannya satu, dosisnya harus rendah untuk menjaga kualitas daun tembakau,” kata dia.

Saat ini, tanaman tembakau milik sekitar 1.500 petani di Kabupaten Rembang sedang memasuki fase pertumbuhan daun, meski sebagian kecil petani masih melakukan pemindahan benih dari bedengan atau persemaian ke areal lahan.

Pada 2012, luasan lahan pertanian tembakau melesat jauh di atas target yang dicanangkan Pemkab Rembang. Tahun ini, ada setidaknya 1.000 hektare lahan tembakau yang dikembangkan petani setempat.

Padahal, 2011 lalu, luasan tanaman tembakau tak lebih dari 80 hektare. Tanaman tembakau kini tersebar di sejumlah kecamatan di antaranya Kaliori, Sumber, Sulang, Lasem, dan Bulu.

Sementara untuk memenuhi kebutuhan air di awal-awal masa tanam ini, sebagian petani membuat embung terpal berukuran 7×8 meter dengan kedalaman hingga satu setengah meter secara mandiri untuk menampung air. (Puji)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan