Harga Lelang Turun, Petani Curigai Gula Impor

Rabu, 4 Juli 2012 | 09:07 WIB
Harga gula pasir putih di tingkat pasaran belum beranjak turun, meski harga lelang gula sudah anjlok. (Foto: bisnis.com)

REMBANG – Sejumlah petani tebu di Kabupaten Rembang mengeluhkan turunnya harga lelang gula dalam sepekan terakhir. Petani mencurigai adanya rembesan gula impor sehingga mengakibatkan turunnya harga lelang gula hingga hanya menjadi Rp10.000 per kilogram pada pekan ini.

Petani tebu di Desa Bogorame, Kecamatan Sulang, Budi Lestariyono kepada suararembang, Rabu (4/7), mengemukakan, secara sepintas turunnya harga gula di tingkat lelang seperti dampak dari hukum pasar.

“Turunnya harga lelang gula dari Rp11.500 pada pekan lalu menjadi tinggal Rp10.000 per kilogram pada pekan ini, sepintas memang seperti dampak dari hukum pasar. Barang banyak ditawarkan, harga akan turun,” kata dia.

Namun, tandas dia, penurunan harga lelang gula secara tiba-tiba memantik kecurigaan di kalangan petani. “Jangan-jangan gula impor mulai merembes,” keluhnya.

Menurut dia, kecurigaan itu bukan tanpa alasan. Pasalnya, saat ini, musim tebang tebu baru saja dimulai. “Jika pun terjadi penurunan secara drastis, setidaknya ya pada saat puncak musim tebang sekitar bulan Oktober nanti,” kata dia.

Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Kabupaten Rembang, Maryono menambahkan, harga gula di tingkat lelang memang konsekuensi dari peningkatan produksi.

“Namun Juni-Juli ini kan baru mulai musim tebang. Karena itu, kalau saat ini sudah ada penurunan dan bahkan ekstrem tentu membuat petani bingung,” ujarnya senada dengan Budi Lestariyono.

Hanya meskipun harga gula pasir putih di tingkat lelang mengalami penurunan drastis, berdasarkan pantauan suararembang di lapangan, harga gula di tingkat pasaran masih belum beranjak turun.

Diki, salah seorang produsen roti di kawasan Kabongan Kidul, Kota Rembang menyebutkan, harga gula di pasar tradisional masih bertahan tinggi. “Baru saja beli harganya masih Rp12.500-Rp13.000 per kilogram,” ujarnya. (Puji)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan