Harga Jual Rendah, Petani Garam Pilih Timbun Panenan

Jumat, 31 Agustus 2012 | 09:51 WIB
Petani garam di Kaliori saat memanen perdana ‘emas putih’-nya belum lama ini. (Foto: Pujianto)

REMBANG, mataairradio.net – Harga jual garam yang rendah membuat sebagian petani garam di Kabupaten Rembang saat ini lebih memilih menimbun garam yang mereka panen ketimbang langsung menjualnya pada pengepul.

Salah seorang petani garam asal Kaliori, Zaenudin, mengatakan, mayoritas petani di daerahnya mulai melakukan penimbunan sejak sepekan silam.

“Saat ini harga tidak berpihak pada petani. Karenanya kami lebih sreg menimbun hasil panenan dulu sembari berharap harga akan berangsur naik. Kalau harganya masih seperti saat ini, kami akan menimbunnya hingga memasuki musim hujan karena harga jual garam saat musim hujan cenderung tinggi,” katanya, Jumat (31/8).

Zaenudin menambahkan, saat ini harga jual garam hanya berkisar pada angka Rp200 hingga Rp250 perkilogram. “jika kami memaksakan menjualnya saat ini, jelas kami akan merugi lantaran biaya operasional selama proses pembuatan garam sudah tinggi,” tambahnya.

Hal sama juga dikatakan salah seorang petani tambak asal kaliori lainnya, Tarwi. Menurutnya, banyaknya panenan garam yang dihasilkan petani sangat berpengaruh pada harga pasar.

“Saat ini harga tidak bersahabat karena banyaknya panenan. Kami akan menimbunnya sampai harga menguntungkan,” katanya.

Seperti pengalaman sebelumnya, tambah Tarwi, saat musim hujan datang harga akan merangkak naik. “Kami memprediksi, harga jual garam bisa mencapai Rp500 hingga Rp600 perkilogram,” tambahnya.

Dipredikisi, musim panen garam di Kabupaten Rembang akan berlangsung hingga Oktober seiring bergantinya musim. (Tarom)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan