Harga Garam Hasil Panen Pertama Terpuruk

Jumat, 25 Mei 2012 | 07:34 WIB


KALIORI – Sejumlah petani garam di Kecamatan Kaliori dalam sepekan terakhir mulai memanen emas putihnya. Namun, harga komoditas itu sedang tak memihak petani. Harganya terpuruk.

“Kami mulai panen. Ini panen pertama. Karena panen pertama, buliran garam belum cukup besar. Ini dampak dari meja garam yang belum keras betul,” terang Jari, seorang buruh pengolah tambak garam asal Desa Babadan, kecamatan setempat, Jumat (25/5).

Ia yang bekerja sebagai buruh garap tambak garam milik petani di Desa Purworejo itu menyebutkan, harga garam yang baru dipanennya itu hanya Rp300 per kilogram.

“Garam panenan pertama ini termasuk dalam kualitas II. Mungkin karena KW II, harganya murah. Namun, dibandingkan harga garam pada panen pertama tahun lalu, berada jauh di bawahnya,” kata Jari.

Pasalnya, pada panen pertama musim lalu, garam kualitas kedua sekalipun masih dihargai lebih dari Rp600 per kilogram, sedangkan musim ini tidak mampu lebih dari Rp300 per kilogram.

Mastur, buruh garap tambak lainnya berasal dari Dusun Wates Desa Tasikharjo menambahkan, keterpurukan harga tidak hanya terjadi pada garam hasil panen pertama.

“Garam lawas (garam hasil produksi musim lalu yang ditimbun, red.) pun harganya anjlok. Garam lawas kualitas kedua harganya hanya Rp500 per kilogram. Padahal bulan April lalu harganya masih Rp600-Rp700 per kilogram,” terang Mastur.

Ia menduga tak terkendalinya peredaran garam impor ke Indonesia menjadi penyebab utama terpuruknya harga garam lokal, meski baru panen pertama.

“Idealnya, saat panen pertama, harga garam masih tinggi. Sebab, pasokan garam di pasaran masih minim. Namun yang terjadi tidaklah demikian. Meski baru panen pertama, pasar garam justru dijejali garam impor. Garam lokal tersisih dari persaingan,” keluh dia.

Menurut Mastur, harga garam panenan pertama yang hanya Rp300 per kilogram terbilang sangat rendah, setidaknya dalam satu tahun terakhir.

“Didasarkan pada tingginya biaya operasional yang dikeluarkan petani ataupun buruh garap, maka dengan harga garam yang Rp300 per kilogram, sangat lah pas-pasan. Jika harganya semakin terpuruk alias kurang dari Rp300 per kilogram, maka kami jelas merugi karena tidak ‘cucuk’,” tandas dia.

Petani berharap Pemerintah bisa lebih berpihak kepada petani garam lokal dengan membatasi impor, kata dia menambahkan. (Puji)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan