Hama Rayap dan Cendawan Ancam Persemaian Tembakau

Senin, 26 Maret 2012 | 08:43 WIB


REMBANG – Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Rembang meminta petani tembakau mewaspadai munculnya hama rayap di lahan persemaian yang rawan mengakibatkan benih tak bisa ditebar.

Kepala Bidang Perkebunan pada Dinas Pertanian dan Kehutanan (Distanhut) Kabupaten Rembang, Yosophat Susilo Hadi, Senin (26/3) menjelaskan, munculnya hama rayap akan merusak tatatan tanah.

Akibatnya lahan persemaian menjadi tidak steril sehingga benih tembakau tak bisa disebar. “Kami hanya merekomendasikan penebaran benih di lahan persemaian yang benar-benar steril. Jika tidak, maka hasilnya tak akan bisa optimal,” kata dia.

Ia menerangkan, lahan persemaian yang steril harus kering, pupuk sudah tercampur sempurna dengan tanah, serta bebas dari berbagai macam hama penyakit. “Selain hama rayap, petani juga perlu mewaspadai munculnya hama cendawan di bawah bedengan lahan persemaian,” kata dia menambahkan.

Menurut dia, jumlah petani tembakau yang melebihi perkiraan, memaksa petugas dari Ddan mitra kerja penanaman tembakau harus intens mendampingi petani. Tahun ini, tanaman bahan baku rokok itu dibudidayakan sekitar 1.500 orang petani di lahan seluas sekitar 1.000 hektare.

Padahal, luasan lahan tembakau tahun lalu hanya 80 hektare dan dikembangkan oleh tak lebih dari 200 orang petani. “Karena petani baru melebihi ekspektasi, kami harus memastikan mereka betul-betul melakukan tahapan persiapan lahan yang benar, sehingga hasilnya maksimal,” kata dia.

Ia menyebutkan, saat ini sebagian besar petani tembakau sudah melakukan persiapan lahan persemaian. Petani di Kecamatan Gunem bahkan telah menebar benih, karena lahan persemaiannya dinyatakan steril dari hama. “Minggu ini, petani di Desa Wiroto direncanakan siap menebar benih,” katad ia.

Persemaian bibit tembakau, terang dia, akan berlangsung selama 45 hari. “Setelah itu bibit akan dipindah ke lahan penanaman yang lebih luas,” kata dia.

Tahun 2011, petani tembakau di kabupaten itu mampu menghasilkan sebanyak 120 ton daun tembakau. Penghasilan yang masuk ke petani mencapai Rp3 miliar. Jika petani tahun ini bisa mempertahankan kualitas daun tembakau, penghasilan petani akan lebih baik, kata dia.

Apalagi perusahaan mitra kerja mematok harga daun tembakau cukup tinggi, sesuai kualitas yang dihasilkan petani. “Selain teknologi penanaman, kami juga menekankan pentingnya penerapan teknologi pasca panen agar kualitas tetap terjaga,” kata dia. (Puji)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan