Dongkrak Tangkapan, Nelayan Rembang Minati Kapal “Juananan”

Senin, 2 Juli 2012 | 10:42 WIB
Industri pembuatan kapal di Desa Kalipang, Kecamatan Sarang. (Foto: antarafoto.com)

SARANG – Sejumlah nelayan di Kabupaten Rembang mulai beringsut melaut menangkap ikan di perairan yang berjarak hingga ratusan mil menyusul minimnya ikan hasil tangkapan di area puluhan mil.

Pilihan itu, menurut Pemilik galangan kapal UD Pagar Jati Nusa di Desa Kalipang, Kecamatan Sarang, Rasnadi (31) kepada suararembang, Senin (2/7),  memicu kenaikan order pembuatan kapal tradisional.

Ia menyebutkan, jumlah pemesan kapal dengan bobot mati 40 grosston (GT) ke atas yang bisa digunakan untuk melaut hingga jarak ratusan mil, mengalami kenaikan hingga dua kali lipat.

“Kapal dengan bobot mati lebih dari 40 GT itu biasa digunakan nelayan untuk melaut pada jarak ratusan mil. Jumlah pesanan meningkat. Dari yang biasanya hanya satu sampai dua unit kapal pesanan, sejak awal hingga pertengahan tahun ini naik menjadi 4-5 unit,” kata dia.

Menurut dia, kenaikan pesanan itu diduga lantaran mulai munculnya kesadaran nelayan untuk melaut lebih jauh agar mendapatkan ikan tangkapan dalam jumlah lebih banyak.

“Kalau melaut hanya pada jarak belasan mil, hasilnya barangkali dinilai tidak sebanding dengan ongkos yang dikeluarkan, bahkan rugi. Melihat pesanan yang meningkat ini, mungkin nelayan mulai sadar melaut dengan areal tangkapan lebih jauh,” tandas dia.

Namun, kenaikan order pembuatan kapal 40 GT atau yang akrab disebut “kapal juananan” itu, ungkap dia, langsung diikuti penurunan order kapal dengan bobot mati 25 GT.

“Tahun lalu, pesanan kapal mini purseseine berbobot mati 25 GT bisa sampai empat unit dalam kurun setengah tahun, kini hanya tingal satu atau dua unit pesanan saja. Pesanan datang dari nelayan lokal Rembang, Tuban, dan Pati,” ujar dia.

Menurut dia, selain dampak dari melonjaknya pesanan kapal berbobot mati 40 GT, menurunnya pesanan pembuatan kapal mini purseseine belakangan ini juga disinyalir karena ketidaktentuan cuaca di laut.

“Cuaca di laut kerap berubah secara ekstrem. Jika kapalnya dibuat lebih besar, tingkat keamanan di lautnya relatif lebih terjamin,” tuturnya.

Ia menambahkan, terkait dengan bahan baku pembuatan kapal, sejauh ini masih bisa dipenuhi, meski diakuinya mulai langka. Soal harga pembuatan kapal, imbuh dia, pun cenderung tetap.

“Harga pembuatan kapal masih berkisar Rp300juta-an untuk yang 25 GT dan Rp500juta-an untuk yang 40 GT,” kata dia.

Setiap unit kapal 25 GT yang dipesan, tandas Rasnadi, pengerjaannya butuh waktu paling lama empat bulan, sedangkan kapal 40 GT bisa memakan waktu hingga lima bulan. (Puji)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan