Dolar Kuat, Eksportir Furnitur Rembang Panen Untung

Sabtu, 31 Agustus 2013 | 17:18 WIB
Usaha penggergajian kayu jati di Kabupaten Rembang. (Foto:Rif)

Usaha penggergajian kayu jati di Kabupaten Rembang. (Foto:Rif)

SUMBER, MataAirRadio.net – Eksportir furnitur di Kabupaten Rembang kini tengah menikmati keuntungan di balik menguatnya nilai tukar dolar Amerika terhadap rupiah. Nilai tukar rupiah dalam dua hari terakhir ini, stabil lemah di kisaran Rp10.900 per dolar Amerika.

Arifin, bos PT Sasana Antik di Desa Krikilan Kecamatan Sumber mengakui, melemahnya rupiah memberikan kenaikan tingkat keuntungan bagi usahanya. Menurutnya, kasus semacam ini pernah terjadi pada 2010 silam. Ketika itu nilai tukar dolar Amerika terhadap rupiah sampai di angka Rp12.000.

Bagi Arifin yang mengeskpor furnitur ke Eropa dan Amerika sejak 2005, fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika, kerap kali terjadi. Ia pun membagi pengalamannya dalam mengantisipasi kemungkinan merosotnya rupiah dan dolar.

Pengusaha muda kelahiran 1980 ini mengungkapkan, ada beberapa pembeli di luar negeri yang pembayaran ordernya dibuat dalam dolar dan IDR atau rupiah. Namun diakuinya, anjloknya rupiah membuat harga material finishing menjadi mahal, karena harus impor.

Arifin yang pada Desember tahun lalu menerima penghargaan Upakarti dari Presiden menambahkan, keuntungan dari menguatnya nilai tukar dolar Amerika tidak serta merta mendatangkan profit yang melimpah baginya.

Sebab, di Eropa misalnya, kondisi perekonomian di Benua Biru itu masih tersapu badai krisis sejak 2010. Bahkan sampai sekarang, masih ada tagihan di Spanyol dan Yunani yang belum tertagih.

Namun, lulusan STIE YKPN Yogyarakarta itu tak kurang akal. Dengan mendesain ulang konstruksi produk sehingga efisien, maka suplai barang ke Eropa masih bisa berjalan.

Arifin menambahkan, saat ini perusahaannya telah memiliki satu perwakilan di Belanda untuk meladeni komplain yang bisa saja terlontar dari pembeli di Eropa.

Ia mengaku sedang menghadapi tantangan bisnis yakni kebijakan pemerintah yang kerap berubah. Misalnya syarat kepemilikan sertifikat SVLK. Selain itu, juga kesulitan mencari sumber daya manusia, karena rata-rata warga setempat memilih merantau daripada bekerja di kampung. (Pujianto)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan