Genjot Batik Warna Alam, Pemkab Janjikan Dana

Minggu, 24 Februari 2013 | 18:00 WIB
Muntoha, Kepala Dinas Perindakop dan UMKM Rembang

Muntoha, Kepala Dinas Perindakop dan UMKM Kabupaten Rembang

LASEM, MataAirRadio.net – Perajin batik tulis lasem bakal diupayakan dampingan dana dari APBD Kabupaten Rembang untuk menggenjot produksi batik dengan pemakaian pewarna alam. Demikian kata Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi (Disperindagkop) dan UMKM Kabupaten Rembang, Muntoha.

Dalam kesempatan wawancara dengan reporter MataAir Radio, Jumat 22 Februari lalu, ia menekankan, produksi batik tulis lasem dengan warna alam memang perlu digiatkan sebagai bentuk respons terhadap pasar, terutama pasar luar negeri.

Menurut Muntoha, batik tulis lasem yang dicelup dengan pewarna alam jelas memerlukan waktu lebih lama jika dibandingkan dengan warna tiruan.

Kenyataan tersebut diakuinya bisa menjadi kendala. Namun para perajin perlu dipahamkan bahwa kualitas dan harga dari produk batik tulis lasem dengan warna alam, berada jauh di atas warna sintetis.

Mengenai pemasaran ke Eropa, pasar yang sangat meminati batik tulis dengan pewarna alam, Kepala Disperindagkop menilai, perajin sudah mulai menjelajah dan menggaet akses pemasaran ke Benua Biru tersebut.

Sementara itu, Ketua Klaster Batik Tulis Lasem Rifai mengatakan, batik tulis lasem dengan warna sintetis maupun alam, memiliki segmen pasar masing-masing. Bagi mereka yang di luar negeri, ia mengungkapkan, memang tidak mau dilayani selain dengan warna alam.

Rifai menegaskan, warna-warna alam cenderung halus atau “soft” sementara warna tiruan hampir selalu terlihat “ngejreng”. Ia mengakui, dari sisi pencelupan, batik tulis dengan warna alam memerlukan pencelupan lebih banyak dibandingkan dengan yang menggunakan warna tiruan.

Namun diakuinya pula, dari sisi harga, batik warna alam memiliki kelas pasar menengah ke atas yang menjanjikan banyak dulangan rupiah dari jangkauan pemasaran hingga ke mancanegara.

Penggunaan warna alam memungkinkan diterapkan perajin batik tulis lasem, lantaran bahan yang mudah diperoleh dari lingkungan sekitar.

Berdasarkan keterangan yang dihimpun dari perajin, warna merah bisa didapatkan dari mengolah hampir semua batang kayu, warna biru atau indigo bisa didapatkan dari daun tom, warna kuning dari kulit kayu mangga, warna cokelat dari batang secang atau akar kelapa, dan warna abu-abu dari kulit buah durian.

Namun sebelum warna alam itu digunakan, perlu dilakukan fiksasi atau pengikatan warna; menggunakan tawas untuk mempertahankan kemunculan warna muda atau memanfaatkan kapur untuk mempertahankan warna tua. (Pujianto)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan