UNBK Hari Terakhir Diwarnai Mati Lampu

Kamis, 12 April 2018 | 16:19 WIB

UNBK jenjang SMA/MA di Kabupaten Rembang. (Foto dikutip dari laman nurfmrembang.com)

 

REMBANG, mataairradio.com – Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di Kabupaten Rembang sempat diwarnai dengan mati lampu akibat korsleting listrik pada hari terakhir, Kamis (12/4/2018).

Insiden ini terjadi di SMA Negeri Kragan. Namun menurut Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Kabupaten Rembang Jupri, kendala itu langsung bisa diatasi, sehingga tak banyak mengganggu.

Secara umum, pelaksanaan UNBK di Kabupaten Rembang, berjalan lancar. Selain mati lampu, UNBK juga sempat diwarnai insiden gangguan jaringan internet di MA Ar-Rohman Bulu dan masalah hard disk di SMA Negeri 3 Rembang.

“Kendala ya hari ini sempat ada mati lampu sebentar di SMA Kragan karena korsleting listrik. Lalu kemarin pertama itu ada gangguan koneksi jaringan internet di MA Ar-Rohman Bulu dan masalah hard disk di SMA Negeri 3 Rembang. Hard disk-nya harus instal ulang,” urainya.

Mengenai catatan sebagai evaluasi penyelenggaraan UNBK tingkat SMA/MA pada tahun ini, Jupri menilai semuanya dipersiapkan. Hanya saja, menyangkut perangkat dan jaringan, masih susah dipastikan.

“Catatan, nggak ada. Semuanya sudah disiapkan. Tinggal soal perangkat saja yang masih susah dipastikan,” tandasnya.

Ujian nasional tingkat SMA hanya mencatat satu siswa yang akan mengikuti UNBK susulan. Siswa ini berasal dari SMA Negeri 1 Rembang. Yang bersangkutan sakit sehingga selama empat hari UNBK, absen.

Di Kabupaten Rembang, ada lima SMA negeri dan sembilan SMA swasta yang menggelar UNBK. Total pesertanya 2.556. Sementara untuk madrasah aliyah, ada dua MA negeri dan 17 MA swasta yang UNBK. Total pesertanya 2.098 orang.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan