Sarana Pencegah Covid-19 di Kampus Rembang Butuh Perhatian

Rabu, 11 November 2020 | 17:34 WIB

STIE YPPI Rembang saat melakukan perkuliahan secara tatap muka khusus untuk mata-kuliah praktikum, di Ruang Labolatorium Komputer Kampus setempat, baru-baru ini, dengan protokoler Covid-19. (Foto: mataairradio.com)

 

REMBANG, mataairradio.com – Sarana untuk mencegah penyebaran Covid-19 di Kompleks Kampus di Kabupaten Rembang butuh perhatian pemerintah.

Ketersediaan sarana tersebut diharapkan dapat membantu pihak kampus tetap mempertahankan kualitas mahasiswa di tengah keterbatasan masa pandemi global Covid-19.

Ahmad Aviv Mahmudi selaku Wakil Ketua I Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) YPPI Rembang mengungkapkan, sekarang ini pihak kampus membutuhkan boks sterilisasi, untuk upaya pencegahan Covid-19.

Menurutnya, boks sterilisasi penting bagi kampus lantaran menjadi pintu pertama pencegahan. Selain itu, perlengkapan protokoler kesehatan lainnya juga dibutuhkan.

Ia berharap, Pemkab Rembang memberikan bantuan sarana protokol kesehatan kepada kalangan kampus tanpa harus melalui proposal.

“Khusus Perguruan Tinggi, mungkin ada perhatian juga berupa bantuan berkaitan dengan boks sterilisasi. Jika memungkinkan bantuan tersebut diberikan tanpa harus melalui proposal, untuk mahasiswa. Saat ini kami belum punya,” terangnya.

Dia menegaskan, pihak Kampus YPPI Rembang sudah menaati ketentuan pemerintah dalam mengatasi pandemi Covid-19.

Salah satu bentuknya yakni sampai sekarang ini kegiatan perkuliahan masih dilakukan secara dalam jaringan (daring).

“Perkuliahan tatap muka hanya bagi praktikum mahasiswa. Itu juga kami perketat pelaksanaan protkes, seperti batasan mahasiswa yang hadir. Intinya, kami ingin meski dalam situasi pandemi kualitas tetap nomor satu,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Akademi Komunitas Semen Indonesia (AKSI) Rembang, Sugihariyadi meminta Peraturan Bupati Rembang Nomor 34 Tahun 2020 yang menjadi acuan pelaksanaan pencegahan Covid-19, diimplementasikan secara teknis.

Ada beberapa poin di dalamnya seperti kegiatan hanya boleh dihadiri oleh orang dengan jumlah maksimal separuh dari kapasitas ruangan, serta menjaga jarak bisa diterapkan di kampus. Apalagi sejumlah lembaga pendidikan non-formal sudah mengaktifkan pembelajaran.

“Saya kira acuannya adalah Perbup 34 2020. Beberapa aktivitas pesantren, interaksi masyarakat sudah digalakkan. Berdiam diri tanpa solusi tidak memberikan manfaat. Saya berharap Perbup tersebut ditegakkan dan menjadi langkah operasional untuk kemanfaatan dunia pendidikan,” tuturnya.

Penjabat Sementara (Pjs) Bupati Rembang Imam Maskur mengatakan, Pemkab Rembang tidak menyediakan anggaran untuk pengadaan boks sterilisasi dan sarana prasarana pencegahan virus Covid-19 kepada lembaga pendidikan tinggi. Bahkan sekolah-sekolah menyediakan sarana prasarana pencegahan Covid-19 secara mandiri.

“Kami juga tidak melakukan droping baik itu boks sterilisasi, tempat cuci tangan, dan masker ke sekolah-sekolah. Pemberian sarana pencegahan Covid-19 diberikan langsung kepada masyarakat seperti di pasar, Tempat Pelelangan Ikan, terminal, dan tempat ibadah,” terangnya.

Terkait Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di Perguruan tinggi merupakan kewenangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Namun demikian apabila kegiatan PTM dilaksanakan di kampus, harus tetap mematuhi Protokol Kesehatan sebagaimana diatur dalam Peraturan Bupati Rembang Nomor 34 tahun 2020.

“Karena ketentuan protokol kesehatan pembelajaran yang diatur dalam Perbup tersebut juga berlaku bagi mahasiswa dan pendidikan tinggi di daerah,” imbuhnya.

 

Penulis: Mukhammad Fadlil
Editor: Mukhammad Fadlil




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan