Ratusan Pemuda Lintas Agama Lakukan Dialog Kebangsaan

Rabu, 3 Juli 2019 | 20:05 WIB

 

Ratusan pemuda dari kalangan santri dan umat Buddha kumpul bersama untuk melakukan dialog kebangsaan dengan tema, “Menjadi Manusia Indonesia Yang Unggul Berdasarkan Saddharma Pundarika Sutra”, pada Rabu (3/7/2019) siang. (Foto: mataairradio.com)

 

REMBANG, mataairradio.com – Ratusan pemuda dari kalangan santri dan umat Buddha kumpul bersama untuk melakukan dialog kebangsaan dengan tema, “Menjadi Manusia Indonesia Yang Unggul Berdasarkan Saddharma Pundarika Sutra”, pada Rabu (3/7/2019) siang.

Saddharma Pundarika Sutra sendiri adalah salah satu ajaran bijak yang dianut oleh umat Buddha.

Kegiatan tersebut digagas oleh sebuah lemabaga keagamaan pada agama Buddha, Parisadha Buddha Dharma Niciren Syosyu Indonesia (NSI).

Dialog yang digelar di Aula Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh-Rembang itu, menghadirkan tiga narasumber, yaitu Kiai Haji Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), Radhar Panca Dahana, dan Suhadi Sendjaja.

Saat diwawancarai mataairradio.com, Ketua NSI Suhadi Sendjaja menyebutkan, ada 170 pemuda dari umat Buddha yang ikut dalam kegiatan tahunan itu.

Ia menambahkan, peserta sebanyak 170 orang itu berasal dari 18 provinsi di Indonesia, antara lain dari Medan, Jambi, Lampung, Bali, dan Banten serta Kalimantan Barat.

“NSI, ini sebuah lembaga agama yang menjadi sarana atau wadah bagi Warga Negara Indoneisa (WNI) yang beragama Buddha Niciren Syosyu. Setiap tahun, untuk pembinaan generasi muda kami punya tiga momen,” terangnya.

Ia menjelaskan, tiga momen tahunan untuk membina generasi muda antara lain adalah Kensio (Pelatihan) Generasi Muda dan Temu Generasi Muda pada saat liburan sekolah.

“Temu Generasi Muda, seperti yang dilakukan pada saat ini. Ini (Dialog, red.) sudah yang ke-32 kali. Gerakan seperti ini, justru generasi muda kita membutuhkan terus meneruh asupan-asupan yang baik dan positif,” terangnya.

Menurutnya, dengan kegiatan ini mampu membuat generasi muda Indonesia menjadi saling kenal dan lebih dekat ditengah perbedaan suku, agama, dan budaya.

“Membawa mereka bersahabat dengan santri di sini (Pondok Leteh-Rembang, red). Membawa mereka mengenal lebih banyak saudara-saudaranya yang beda agama dan beda suku. Tapi mereka adalah saudara kita se-bahasa dan se-bangsa,” pungkasnya.

Saat ditengah berlangsungnya dialog, Gus Mus memberikan penjelasan tentang maksud sebuah agama. Gus Mus mengumpamakan agama adalah seperti sebuah kereta kencana.

“Saya membuat perumpamaan, agama itu seperti kereta kencana. Kita ini di dalam kereta kencana untuk menuju tujuan terakhir tapi kita ini lebih dulu ribut cari tempat duduk. Akhirnya tidak jalan-jalan,” katanya.

Sementara itu, setelah sesi dialog usai, perwakilan dari kalangan Santri Pondok Leteh dan Pemuda Umat Buddha Niciren Syosyu saling bergantian menampilkan sebuah pertunjukan seni musik, yang membuat suasana menjadi riuh gembira.

 

 

Penulis: Mukhammad Fadlil
Editor : Mukhammad Fadlil

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan