Warga Tegaldowo Resah oleh Aktivitas Rombongan Pendatang

Senin, 29 Desember 2014 | 15:31 WIB
Aktivitas rombongan pendatang yang memasang spanduk berisi ajakan menyelamatkan lingkungan di salah satu titik di wilayah Desa Tegaldolwo Kecamatan Gunem. (Foto: mataairradio.com)

Aktivitas rombongan pendatang yang memasang spanduk berisi ajakan menyelamatkan lingkungan di salah satu titik di wilayah Desa Tegaldolwo Kecamatan Gunem. (Foto: mataairradio.com)

 

GUNEM, mataairradio.com – Sejumlah warga Desa Tegaldowo Kecamatan Gunem resah oleh aktivitas sekitar 20 orang pendatang dari luar daerah yang turut menghuni posko penolakan pembangunan pabrik semen di desa itu.

Warga menyebut mereka datang pada 28 Desember kemarin, kemudian membuat spanduk dan memasangnya di beberapa titik kampung. Malam harinya, beberapa dari mereka membunyikan musik dengan volume lumayan keras, sehingga mengganggu warga sekitar.

Ratno, warga yang tinggal bersebelahan persis dengan posko mengaku tidak mempermasalahkan aktivitas penolakan pabrik semen.

“Namun bukan berarti warga luar daerah bisa sembarangan datang tanpa menghargai penduduk setempat, terutama di bilangan RT 1 RW 2,” kata Ratno kepada mataairradio.

Dia mengaku sempat bertanya dari mana mereka berasal. Jawabannya, dari Pati, Tuban, bahkan ada yang dari Jakarta.

“Kami dan warga lain merasa terganggu dengan aksi semacam itu dan berharap pihak desa menertibkan. Beberapa pemuda desa sempat juga menegur agar tak menyalakan musik keras-keras,” tandasnya.

Kepala Desa Tegaldowo Suntono yang dikonfirmasi, mengaku telah mendapat laporan dari warganya yang resah. Namun hingga Senin (29/12/2014) ini, ia belum akan menentukan langkah.

“Sebab, mereka telah memenuhi prosedur lapor kepada pemerintah desa,” ungkapnya.

Menurutnya, aparat desa juga telah menanyai rombongan pemuda ini yang dijawab sekadar aksi solidaritas untuk mengamankan Bumi Pertiwi dari kegiatan penambangan dan pabrik semen.

“Memang, banyak warga yang mengaku merasa terganggu,” tegasnya.

Bagi pemerintah desa, aksi penolakan semacam itu tidak menjadi sebuah soal, asalkan dilakukan dengan menghargai hak orang lain.

“Tapi ktivitas para pendatang itu hanya sampai 30 Desember ini kok. Tahunya, dari pemberitahuan tertulis yang disampaikan kepada desa,” imbuhnya.

Menanggapi keresahan tersebut, tokoh pemuda penolak pabrik semen dari Desa Tegaldowo Kecamatan Gunem Joko Prianto justru menuding keresahan itu berasal dari kelompok pro-semen.

“Sebab sejauh yang saya tahu, tidak ada warga yang resah, karena juga sudah ada izin kepada lingkungan,” ujarnya.

Dia membenarkan, para pemuda pendatang itu berasal dari luar daerah, tepatnya dari kelompok SeBUMI atau Serikat Kebudayaan Masyarakat Indonesia.
“Mereka datang untuk bersolidaritas terkait kasus penolakan terhadap pabrik semen. Benar ( sudah akan pulang 30 Desember ini),” pungkasnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan