Warga Tegaldowo Batal Buat Aral Melintang Jalan

Senin, 17 Februari 2014 | 16:48 WIB
Warga Desa Tegaldowo Kecamatan Gunem memasang plang bertuliskan "jalan ini ditutup bukan untuk tambang" di kawasan perempatan desa setempat, Kamis (12/2) pagi. (Foto: Pujianto)

Warga Desa Tegaldowo Kecamatan Gunem memasang plang bertuliskan “jalan ini ditutup bukan untuk tambang” di kawasan perempatan desa setempat, Kamis (12/2) pagi. (Foto: Pujianto)

GUNEM, MataAirRadio.net – Warga Desa Tegaldowo Kecamatan Gunem batal membuat aral melintang di jalan desa setempat. Sebelumnya, warga mengancam akan menggali jalan secara melintang untuk mencegah truk tambang melintasi jalan desa, dari perempatan Pasar Tegaldowo ke arah timur.

Tokoh masyarakat Desa Tegaldowo Sunardi menjelaskan, aksi membuat rintangan digagalkan oleh pihak kepala desa. Pihak desa berdalih belum bertemu dengan pihak dinas pekerjaan umum dan perhutani, menyangkut penggunaan jalan lain, selain milik desa.

Warga, menurut Nardi, kini menunggu aksi lanjut dari Pemerintah Desa Tegaldowo. Yang jelas, warga masih tetap teguh menuntut agar jalan desa steril dari lalu lalang truk tambang. Dari pantauan MataAir Radio, pada Senin (17/2) pagi sudah tidak ada truk tambang yang melintasi jalan desa.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, pihak perusahaan tambang telah meminta armadanya agar tidak mengakses jalan desa. Jika sopirnya melanggar, perusahaan akan menjatuhkan denda sebagai bentuk klaim. Sementara tulisan berisi larangan melintas bagi truk, sudah hilang.

Kepala Desa Tegaldowo Suntono mengaku sudah melakukan pendekatan kepada para sopir dari angkutan tambang agar tidak menggunakan jalan desa. Menurutnya, sebagian sopir armada tambang, merupakan warga desanya.

Kepala desa juga menyebutkan, sebagian ruas yang sempat diakses armada tambang merupakan jalan desa, sebagian lagi merupakan jalan milik Perum Perhutani. Jalan desa sepanjang satu kilometer, jalan hutan sepanjang kurang lebih 1,5 kilometer.

Wakil Administratur Perhutani KPH Mantingan Moch Rizqon mengatakan, truk tambang mestinya melewati jalan antara Tegaldowo hingga Wonokerto Kecamatan Sale. Tidak melewati jalan desa yang juga melewati separuh jalan milik perhutani.

Jika armada tambang, melintasi jalan desa yang secara otomatis melewati jalan hutan, maka perlu izin dan selama ini pihaknya menyebut tak ada permohonan yang masuk.

Sebelumnya, sekitar 60 orang warga Desa Tegaldowo memadati balai desa setempat pada Kamis, 13 Februari lalu. Mereka menuntut truk tambang agar tidak mengakses jalan desa. Padatnya lalu lintas armada tambang membuat jalan desa cepat rusak dan berdebu, sehingga dinilai merugikan warga. (Pujianto)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan