Warga Tagih Perkembangan Penyelidikan Dugaan Kekerasan Kasus Semen

Wednesday, 7 January 2015 | 19:13 WIB
Polisi bersitegang dengan warga penolak pabrik semen yang memblokir lagi jalan masuk ke tapak pabrik milik PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, Kamis (27/11/2014). (Foto: Pujianto)

Polisi bersitegang dengan warga penolak pabrik semen yang memblokir lagi jalan masuk ke tapak pabrik milik PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, Kamis (27/11/2014). (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Warga penentang pendirian pabrik dan rencana penambangan semen di Rembang menagih perkembangan penyelidikan atas laporan dugaan kekerasan yang dilakukan polisi saat mereka beraksi pada 26 dan 27 November 2014.

Sebelumnya, pada 1 Desember 2014, tiga orang perempuan didampingi dua aktivis lingkungan melapor ke Polda Jawa Tengah atas dugaan pemukulan oleh polisi terhadap salah satu ibu-ibu pada saat aksi pemblokiran jalan masuk ke tapak pabrik semen di Kadiwono-Bulu, 27 November 2014.

Pendamping warga dari LBH Semarang Zaenal Arifin mengatakan, sebenarnya tanpa diminta, polisi berkewajiban menyampaikan perkembangan hasil dari penyelidikan secara berkala kepada warga karena memang begitu ketentuannya.

Menurutnya, tidak kunjung disampaikannya hasil perkembangan penyelidikan oleh polisi seolah tidak menunjukkan semangat penegakan hukum yang tak pandang bulu. Apalagi dari segi waktu, penyelidikan sudah lebih dari satu bulan dilakukan, terhitung sejak laporan per 1 Desember itu.

Zaenal juga menyebut, pemberitahuan perkembangan hasil penyelidikan dari polisi penting bagi pergerakan yang dilakukan oleh para perempuan yang kini masih menentang pendirian pabrik semen. Paling tidak untuk memberikan kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian.

Sementara di sisi lain, warga mengapresiasi Majelis Hakim di Pengadilan Tata Usaha Negara yang progresif, menolak eksepsi dari pihak tergugat dalam hal ini Gubernur Jawa Tengah dan PT Semen Indonesia (Persero), dan berpegang hukum acara di PTUN.

Pada sidang duplik atau jawaban kedua atas replik atau eksepsi tergugat yang dijadwalkan digelar Kamis (8/1/2015) ini, pihaknya berharap agar nantinya Majelis Hakim mengabulkan permohonan penundaan atas izin lingkungan untuk PT Semen Indonesia.

Dan kemudiannya, karena ada status quo atas izin lingkungan, menurutnya, pembangunan pabrik semen harus dihentikan karena berpotensi mengancam ekologi serta sudah secara fakta dan nyata melahirkan konflik.

Sebelumnya, Kapolres Rembang AKBP Muhammad Kurniawan mengaku sudah menggunakan cara-cara persuasif dalam penanganan sekelompok orang yang memblokir akses masuk ke tapak pabrik PT Semen Indonesia (Persero) pada 26 dan 27 November 2014.

Dia mengklaim tidak ada sama sekali kekerasan yang dilakukan kepada warga. Penertiban aksi yang dilakukan oleh polisi kala itu disebut agar tidak terjadi pengatasnamaan hak untuk mengganggu hak orang lain.

Sementara itu, secara terpisah, puluhan orang yang mengaku dari komunitas Semut Ireng, Rabu (7/1/2015) pagi berangkat ke Semarang untuk mendukung Gubernur Ganjar Pranowo dalam hal pembangunan pabrik semen di Rembang. Mereka berangkat dengan satu bus dari Lapangan Mondoteko-Rembang.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan