Warga Kian Jengkel Varia Usaha Beton Operasi Malam

Jumat, 20 Maret 2015 | 18:19 WIB
Batching Plant PT Varia Usaha di Dusun Nyikaran Desa Kemadu Kecamatan Sulang. (Foto: Pujianto)

Batching Plant PT Varia Usaha di Dusun Nyikaran Desa Kemadu Kecamatan Sulang. (Foto: Pujianto)

 

SULANG, mataairradio.com – Warga Dusun Nyikaran Desa Kemadu Kecamatan Sulang semakin jengkel dengan keberadaan pabrik beton milik PT Varia Usaha Beton.

Keinginan mereka agar pabrik tidak beroperasi pada malam hari, tidak digubris. Dua hari terakhir ini misalnya, pabrik beroperasi hingga tengah malam.

Padahal pihak pabrik telah berkomitmen untuk beroperasi hanya sejak pukul 07.30 hingga pukul 15.30 WIB.

Atas kenyataan ini, warga belum bereaksi secara lebih luas, setidaknya hingga Jumat (20/3/2015) siang.

Kepala Dusun Nyikaran Haryanto mengaku hanya sekadar mengirimkan pesan singkat atau SMS kepada pihak DPRD dan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Rembang.

“Namun aduan agar para pihak itu menindak PT Varia Usaha Beton, belum sampai direspon,” katanya.

Menurut kepala dusun, keharmonisan warganya terganggu. Warga tetap pada keinginannya agar pabrik beton itu pindah dari Dusun Nyikaran.

“Bukan soal tidak setuju adanya investasi, melainkan soal jarak pabrik dengan permukiman, yang terlalu dekat,” tandasnya.

Haryanto menegaskan, selama dua hari terakhir ini, istrinya yang dalam masa penyembuhan penyakit jantung, tidak bisa tenang beristirahat.

“Soal debu dan kebisingan, jangan ditanya, karena sudah jelas dampaknya karena mepet dengan kawasan perumahan,” katanya.

Dalam hal keberadaan pabrik ini, pihaknya merasa ada yang bermain dengan mengadu warga.

Kenyataan ini terlihat, salah satunya dari pertemuan antara warga dengan DPRD dan pihak Pemkab, baru-baru ini.

“Warga sadar yang mereka hadapi adalah perusahaan dengan kapital besar,” tegasnya.

Ketua Komisi A DPRD Rembang Ilyas mengaku akan menindaklanjuti kejengkelan warga. Namun dia tidak menjelaskan bentuk tindak lanjut.

Yang jelas di pertemuan terakhir antara warga dengan Komisi A DPRD, anggota dewan angkat tangan membantu, jika yang diminta warga, tetap pabrik pindah.

Kepala Badan Lingkungan Hidup Rembang Purwadi Samsi mengaku sedang berada di Yogyakarta untuk kepentingan diklat.

“Jika memang pihak pabrik mengingkari komitmen, seharusnya polisi sudah bisa menghentikan karena keresahan warga,” pungkas Purwadi.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan